<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Business Coaching - Business Coach - Smart Action Breakthrough Business Community &#187; Entrepreneurship</title>
	<atom:link href="http://www.smart-action.net/category/entrepreneurship/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.smart-action.net</link>
	<description>Indonesia Business Training and Business Coaching</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jun 2009 16:14:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Komunitas Bisnis Antusias Sambut Presiden SBY</title>
		<link>http://www.smart-action.net/komunitas-bisnis-antusias-sambut-presiden-sby.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/komunitas-bisnis-antusias-sambut-presiden-sby.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 16:29:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Business Community]]></category>
		<category><![CDATA[Channel NewsAsia]]></category>
		<category><![CDATA[Government]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Kuan Yew]]></category>
		<category><![CDATA[Society and Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Komunitas Bisnis (Business Community) Antusias Sambut Presiden SBY
Dari lima agenda khusus selama kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama rombongan ke Singapura, 6-7 Agustus ini, pertemuan dengan komunitas bisnis (business community) setempat mendapat sorotan berbagai media berpengaruh di negara kota tersebut, juga amat antusias ditunggu para pelaku ekonomi setempat.
Seorang profesional asal Indonesia di Singapura, Yohannes Adrian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Komunitas Bisnis (Business Community) Antusias Sambut Presiden SBY</strong></p>
<p>Dari lima agenda khusus selama kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama rombongan ke Singapura, 6-7 Agustus ini, pertemuan dengan komunitas bisnis (business community) setempat mendapat sorotan berbagai media berpengaruh di negara kota tersebut, juga amat antusias ditunggu para pelaku ekonomi setempat.</p>
<p>Seorang profesional asal Indonesia di Singapura, Yohannes Adrian, misalnya, kepada ANTARA, Sabtu (5/8) mengakui, telah mendengar begitu bergairahnya para pebisnis menghadiri malam pertemuan dengan Presiden Yudhoyono, guna mendapat informasi dari tangan pertama mengenai berbagai perkembangan bisnis maupun peluang investasi baru.</p>
<p>Sementara itu, Channel NewsAsia, televisi berita utama di Singapura, dalam edisi khususnya, dari Jumat malam (4/8) hingga Sabtu pagi (5/8), memberitakan, para pebisnis (business community)  kelas atas sangat berminat menghadiri pertemuan dengan Presiden Yudhoyono yang dijadwalkan datang bersama Menko Ekuin Boediono, Menlu Hassan Wirayudha serta Ibu Negara.</p>
<p>&#8220;Dari Kantor Perdana Menteri Singapura, Channel NewsAsia mendapat informasi, agenda tak kalah menariknya berupa pertemuan Presiden Yudhoyono dengan Menteri Mentor Singapura, Lee Kuan Yew, di samping kunjungan persahabatan kepada PM Singapura, Lee Hsien Loong,&#8221; demikian berita Channel NewsAsia yang disiarkan sebanyak tiga kali, termasuk pada saat PrimeTime pukul 20.00 malam (Jumat, 4/8) waktu setempat.</p>
<p>Soal KEKI-BBK</p>
<p>Salah satu informasi yang begitu dinanti-nantikan para pebisnis  (business community)  dan calon investor Singapura, menurut Yohannes, ialah menyangkut perkembangan Special Economic Zone (SEZ) atau Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia (KEKI) di Batam-Bintan-Karimun (BBK), Kepulauan Riau.</p>
<p>&#8220;Diharapkan bapak presiden bersama tim ekonominya bisa memperjelas status serta kepastian hukum atas KEKI-BBK itu, agar investasi yang sebagian besar berupa relokasi industri berskala besar, bisa segera terealisasi tahun ini juga ke sana,&#8221; ujar Yohannes lagi.</p>
<p>Dari sudut pandang para pebisnis Singapura, kepastian hukum itu menyangkut pula konsistensi aturan dari tingkat pusat sampai di daerah.</p>
<p>&#8220;Artinya, jangan lagi ada aturan tambahan di daerah yang membuat investasi terganggu, sebagaimana sudah jadi pengalaman pahit di banyak daerah lainnya di luar KEKI-BBK,&#8221; kata Yohannes Adrian.</p>
<p>article source: http://www.kapanlagi.com/h/0000128295.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/komunitas-bisnis-antusias-sambut-presiden-sby.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Komunitas Bisnis ( Business Community) Pemula</title>
		<link>http://www.smart-action.net/situs-komunitas-bisnis-business-community-pemula.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/situs-komunitas-bisnis-business-community-pemula.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 16:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Business Community]]></category>
		<category><![CDATA[Government]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[International Electrotechnical Commission]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[United States]]></category>
		<category><![CDATA[West Java]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Situs Komunitas Bisnis ( Business Community) Pemula
Kita sering mendengar ada yang membanding-bandingkan antara orang yang bekerja sebagai karyawan dengan orang yang membuka lapangan pekerjaan baru dengan berbisnis. Sebagian orang berpendapat bahwa menjadi pengusaha lebih baik dari pada karyawan, sebagian yang lain menganggap menjadi karyawan merupakan jalan yang lebih aman untuk memperoleh pencaharian. Apapun alasannya kedua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Situs Komunitas Bisnis ( Business Community) Pemula</strong></p>
<p>Kita sering mendengar ada yang membanding-bandingkan antara orang yang bekerja sebagai karyawan dengan orang yang membuka lapangan pekerjaan baru dengan berbisnis. Sebagian orang berpendapat bahwa menjadi pengusaha lebih baik dari pada karyawan, sebagian yang lain menganggap menjadi karyawan merupakan jalan yang lebih aman untuk memperoleh pencaharian. Apapun alasannya kedua pilihan tadi mungkin kurang lebih sama baiknya, masing-masing memiliki plus minus tersendiri. Karena tidak lantas dengan memilih menjadi pengusaha, seseorang menjadi sukses. Seseorang yang menjadi karyawan pun belum tentu aman dari ancaman PHK, karena bisa saja perusahaan tempatnya bekerja tiba-tiba bangkrut.</p>
<p>Campus-preneur dan Jatuh Bangun Bisnis</p>
<p>Satu hal yang saya yakin dapat kita sepakati adalah bahwa memulai bisnis bukan suatu perkara gampang. Jatuh bangun dalam menyusun tangga kesuksesan adalah suatu hal biasa dan wajar. Karena itulah, begitu banyak orang yang menyerah dari bisnis yang ia mulai karena kalah mental dalam menghadapi persaingan yang ada. Tetapi diluar fenomena itu tak jarang pula yang ‘membandel’ menghadapi kegagalan kemudian mencoba jalur yang lain sehingga akhirnya dapat survive. Ternyata tidak hanya diluar kampus saja persaingan untuk survive dalam bisnis ini ada, bahkan mahasiswa hingga dosen pun tertarik untuk berbisnis.</p>
<p>Jika kita lihat fenomena yang cukup dekat dengan lingkungan kampus sendiri, bisa jadi hal tersebut begitu mudah kita temui. Mungkin saat kita masih berkutat dengan tugas kuliah dan praktikum ternyata teman kita justru pusing dengan businessplan-nya. Mungkin pula ada dosen kita yang membuat kita terkagum-kagum dengan home industry yang dikembangkannya, atau sebaliknya membuat jengkel karena berproyek-ria dan membuat kuliah terbengkalai. Atau jangan-jangan malah kita sendiri yang ternyata tertarik untuk mulai mengelola bisnis. Fenomena ketertarikan tersebut makin marak dan mewabah seiring banyaknya lomba bertajuk “entrepreneur challenge” yang ditujukan bagi mahasiswa seperti IEC, SYEC, PKM, dll.</p>
<p>Tentunya hal diatas merupakan hal yang menggembirakan. Ditengah masih terpuruknya perekonomian negeri kita dan tingginya tingkat korupsi di Indonesia perkembangan calon-calon pengusaha baru merupakan titik terang munculnya lapangan kerja baru. Hal ini jika dikelola dengan baik akan berdampak baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat seiring menurunnya tingkat pengangguran dinegeri ini. Disamping itu berkembangnya entrepreneurship sejak di lingkungan kampus berpotensi untuk memacu semangat berwirausaha pada strata masyarakat lainnya. Layaklah kiranya bagi kita untuk optimis bahwa negeri kita dapat bangkit dari keterpurukan yang kita alami sekarang.</p>
<p>Akselerasi perkembangan bisnis baru melalui situs komunitas</p>
<p>Salah satu cara untuk mendukung tumbuhnya entrepreneur-entrepreneur baru adalah dengan menyatukan calon-calon pengusaha dengan pengusaha yang telah mapan. Dengan begitu maka terjadi proses transfer nilai dan etos berusaha dari pelaku yang telah sukses ke para pemula. Hal ini menjadikan proses “belajar dari nol” yang dilakukan para pengusaha baru itu berlangsung lebih cepat. Selain itu peluang kerjasama antar pebisnis-pebisnis tersebut terbuka lebar, sehingga secara otomatis terbentuk suatu jaringan perekonomian yang kuat dan saling menguatkan.</p>
<p>Salah satu contoh yang mudah mungkin Liqo’at bisnis yang beberapa bulan lalu sempat terdengar diantaranya di Bandung sendiri. Melalui pertemuan-pertemuan pengajian ini, pebisnis-pebisnis muslim baru dapat membangun jaringan bisnisnya dengan kedekatan kekeluargaan yang terbangun antar anggotanya plus peningkatan spiritualitas mereka. Komunitas-komunitas ini sangat membantu bagi para pemula karena ada saudara-saudara baru yang siap membantu mereka dengan dasar landasan yang kuat, yaitu landasan kesamaan aqidah.</p>
<p>Secara tidak terduga tercetus gagasan untuk membuat situs komunitas yang dapat menyatukan para wirausahawan pemula, orang yang tertarik untuk mengenal kewirausahaan dan pengusaha mapan yang telah sukses dibidangnya. Awalnya ide ini muncul dari masalah sederhana, keinginan untuk belajar membuat business plan. Hal tadi ditambah ketertarikan terhadap bidang web-development membuat saya kemudian terpikir untuk mengembangkan suatu layanan pembuatan business plan secara On-line. Ide ini kemudian berkembang lebih jauh menjadi situs komunitas, karena saya pikir sekedar bisa membuat business plan saja tidak cukup. Terpikirkan untuk membuat suatu wahana yang memfasilitasi konsultasi seputar memulai bisnis, tempat bertukar info mengenai peluang yang ada, dan jaringan bisnis yang dapat menyatukan pebisnis baru dari seluruh nusantara.</p>
<p>Saya melihat ide ini berprospek untuk dikembangkan, terutama untuk mempercepat pertumbuhan usaha baru di Indonesia. Jika melihat perkembangan yang begitu pesat dari situs komunitas seperti friendster, multiply serta blog seperti blogger dan wordpress tentunya situs komunitas bisnis pemula ini memiliki prospek yang sangat baik.</p>
<p>article source: http://xtraardeenary.wordpress.com/2007/06/07/situs-komunitas-bisnis-pemula/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/situs-komunitas-bisnis-business-community-pemula.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KOMUNITAS BISNIS (Business Community)</title>
		<link>http://www.smart-action.net/komunitas-bisnis-business-community.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/komunitas-bisnis-business-community.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 15:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Access Providers]]></category>
		<category><![CDATA[Business and Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Business Community]]></category>
		<category><![CDATA[Chrysler]]></category>
		<category><![CDATA[General Motors]]></category>
		<category><![CDATA[Lions Gate Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Metro-Goldwyn-Mayer]]></category>
		<category><![CDATA[MGM]]></category>
		<category><![CDATA[United States]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Komunitas bisnis (Business Community) yang memungkinkan kita belajar kepada orang yang tepat, sekaligus bekerjasama menjalankan usaha.
Bagaimana Memilih Pelanggan
Pakar dan ahli pemasaran maupun konsultan manajemen manapun pasti setuju bahwa “Pelanggan adalah salah satu Sumber Profit” untuk itu sangat perlu bahkan merupakan keharusan setiap perusahaan melakukan upaya-upaya untuk melanggengan hubungan pelanggan dengan perusahaan, hal ini lakukan agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komunitas bisnis (Business Community) yang memungkinkan kita belajar kepada orang yang tepat, sekaligus bekerjasama menjalankan usaha.</p>
<p><strong>Bagaimana Memilih Pelanggan</strong></p>
<p>Pakar dan ahli pemasaran maupun konsultan manajemen manapun pasti setuju bahwa “<strong>Pelanggan adalah salah satu Sumber Profit</strong>” untuk itu sangat perlu bahkan merupakan keharusan setiap perusahaan melakukan upaya-upaya untuk melanggengan hubungan pelanggan dengan perusahaan, hal ini lakukan agar pelanggan tindak pindah ke produk lain atau kecewa dengan produk kita. Bahkan pelanggan sering dianalogikan sebagai raja, artinya pelanggan harus selalu dilayani apapun permintaanya, meski dalam hal ini saya tidak setuju 100% mengapa, karena :<br />
Bila pelanggan adalah raja maka perusahaan hanya akan dijadikan hamba, hamba identik dengan bawahan, bawahan identik dengan kacung, kacung identik dengan tak berhak mengutarakan pendapat.<br />
Bila pelanggan adalah raja maka setiap keputusan ataupun permintaannya adalah mutlak (absolute) dan tidak dapat diganggugugat, padahal faktanya banyak juga pelanggan yang permintaannya tidak harus dituruti, misalnya minta harga murah, kualitas no 1, cara pembayaran nyicil tanpa bunga, bahkan ada lho pelanggan yang kalau kredit mau, namun waktunya pembayarannya jatuh tempo malah kabur alias tidak bayar… apakah yang seperti pelanggan adalah raja?</p>
<p><strong>Pelanggan adalah sumber profit sekaligus mitra</strong><br />
Karena pelanggan adalah sumber profit sekaligus mitra, maka hati-hatilah memilih mereka, beberapa hal yang saya usulkan dalam melakukan pemilihan pelanggan khususnya bila perusahaan anda memberikan fasilitas pembayaran secara kredit (term of payment)sbb :<br />
Pastikan anda memberikan waktu jatuh tempo adalah lebih pendek daripada anda mendapat waktu jatuh tempo dari pemasok (suplier) hal ini harus anda lakukan agar cashflow anda sehat, artinya sebelum hutang anda jatuh tempo anda sudah menerima pembayaran terlebih dahulu dari pelaanggan anda.<br />
pastikan team dalam organisasi anda telah melakukan sosialisasi dengan benar mengenai waktu jatuh tempo pembayaran termasuk didalamnya adalah sanksi bila pelanggan tidak tepat waktu dalam melakukan pembayaran.<br />
pastikan anda memiliki data profile calon pelanggan anda yang meliputi :<br />
· alamat rumah / kantor masih kontrak atau atas nama sendiri<br />
· lamanya usaha telah dibangun<br />
· No telepon yang mudah dihubungi<br />
· Menggali informasi dari tetangga sekitar calon pelanggan tinggal<br />
· Menggali informasi dari pemasok lain, apakah calon pelanggan tergolong pelanggan yang karakter pembayarannya tepat waktu dan disiplin<br />
pastikan calon pelanggan anda telah lulus masa uji coba kredit, maksudnya adalah sebelum anda memutuskan untuk memberikan fasilitas kredit kepada calaon pelanggan anda, sebaiknya anda mengujinya dengan pembayaran secara tunai atau cash terlebih dahaulu untuk jangka waktu tertentu, misalnya untuk 3 bulan pertama. Bila dalam 3 bulan pertama ia menjadi pelanggan dengan karakter pembayaran yang baik, barulah anda dapat mempertimbangkannya untuk diberikan fasilitas kredit, itupun harus dikontrol dengan baik<br />
memilih calon pelanggan dengan cara aman melalui referensi, dengan cara ini anda akan mendapatkan calon pelanggan dari pelanggan lama anda (existing customer), misalnya anda memberikan ucapan terima kasih berupa ekstra discount kepada pelanggan lama anda bila pelanggan lama anda memberikan satu referensi atau teman mereka untuk dijadikan calon pelanggan anda, atau anda memberikan souvenir cantik untuk pelanggan anda, memilih cara aman seperti ini sudah banyak dilakukan oleh bank-bank besar dalam peningkatan penjualan khususnya pada divisi kartu kredit yang disebut Member Get Member (MGM).</p>
<p><strong>Kesimpulan :</strong><br />
pelanggan adalah sumber profit maka memberikan kepuasan kepada mereka adalah salah satu pilihan yang harus dilakukan<br />
pelanggan adalah sumber profit maka jagalah kualitas produk dan jasa anda dengan baik agar tidak mudah dikalahkan dengan para pesaing<br />
maka pilihlah pelanggan yang dapat membela anda<br />
maka perlakukanlah mereka sebagaimana anda ingin diperlakukan<br />
maka sampaikan dengan jujur apa yang dapat anda berikan dan yang tidak dapat anda berikan, misalnya soal harga, soal discount, soal biaya pengiriman dll<br />
memilih calon pelanggan adalah sangat penting, karena pilihan yang tepat akan sangat membantu cashflow anda, ingat mencegah piutang macet jauh lebih baik daripada mengatasi piutang macet.</p>
<p>Penulis ; Adi Kriswanto<br />
Dewan Mentor IES<br />
Owner Idol@net – Cikarang<br />
GM PT. Grahaprima Distribution</p>
<p>article source: http://klikpebisnis.blogspot.com/</p>
<div style="margin-top: 10px; height: 15px;" class="zemanta-pixie"><a class="zemanta-pixie-a" href="http://reblog.zemanta.com/zemified/b26ebd65-74c7-463d-bc03-6703f98a82b8/" title="Reblog this post [with Zemanta]"><img style="border: medium none ; float: right;" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=b26ebd65-74c7-463d-bc03-6703f98a82b8" alt="Reblog this post [with Zemanta]"></a><span class="zem-script more-related pretty-attribution"><script type="text/javascript" src="http://static.zemanta.com/readside/loader.js" defer="defer"></script></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/komunitas-bisnis-business-community.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Business Coach &#8211; Agus Gunario</title>
		<link>http://www.smart-action.net/business-coach-agus-gunario.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/business-coach-agus-gunario.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 01:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonials]]></category>
		<category><![CDATA[business coaching]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Agus Gunario – Menjadi pebisnis sekaligus pelatih ( business coach )
Sebagai pemilik bisnis, Agus Gunario, sosok kita bulan ini merasakan bahwa selama ini banyak menghabiskan waktu dan uang pada hal-hal yang tidak pada tempatnya. “Bila waktu itu didampingi coach, pasti hasil yang didapat bisa berlipat ganda” ujarnya pada PM disela sela seminar Billionare in Training
Alasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agus Gunario – Menjadi pebisnis sekaligus pelatih ( <a href="http://www.smart-action.net/business-coach-sekilas-tentang-coaching.html">business coach</a> )</p>
<p>Sebagai pemilik bisnis, Agus Gunario, sosok kita bulan ini merasakan bahwa selama ini banyak menghabiskan waktu dan uang pada hal-hal yang tidak pada tempatnya. “Bila waktu itu didampingi coach, pasti hasil yang didapat bisa berlipat ganda” ujarnya pada PM disela sela seminar Billionare in Training</p>
<p>Alasan itulah yang ikut mendorong bergabung dengan ACTIONCOACH sebagai Action <a href="http://www.smart-action.net/business-coach-solusi-bagi-dunia-bisnis.html">Business Coach</a> setelah menjalani Global Training di Las Vegas pada bulan September 2006 . “Saya mempunyai kesempatan untuk membantu para pemilik bisnis dalam mendapatkan apa yang mereka inginkan baik dalam hidup maupun bisnisnya” tandas Agus</p>
<p>Ia menampik anggapan jika seorang Entrepreuner yang sukses harusnya mengalami “Zero Point” terlebih dahulu. Layaknya anak kecil yang sering terjatuh saat belajar berjalan, demikian juga bisnis. Yang penting, setiap jatuh harus belajar dari kejatuhan tersebut dan bangkit lagi.  Menurut pria ramah ini, justru disitulah peran Business Coach dibutuhkan.</p>
<p>Agus mengkritisi, jika ada beberapa pebisnis yang begitu tergantung pada kondisi perekonomian. Jalan terbaik adalah memikirkan bagaimana bisnis bisa berkembang dengan kondisi yang ada. Satu hal yang diingat Agus ialah petuah dari Brad Sugars bahwa yang lebih kaya adalah bukan yang mendulang emas tapi yang menjual loyangnya.</p>
<p>Karena itulah ia lebih memposisikan sebagai pebisnis sekaligus pelatih ( <a href="http://www.smart-action.net/business-coach-cara-mengurangi-kerugian-bisnis.html">business coach</a> ). “Untuk menjadi Action <a href="http://www.smart-action.net/keuntungan-business-coaching.html">Business Coach</a> kita harus membeli lisensi dan membayar fee kepada ActionCoach business coaching.” Imbuhnya. Yang membahagiakan Agus, profesi itu sangat didukung oleh istri dan anak-anaknya. Sayangnya belum banyak yang menekuni profesi business coaching. Di Indonesia sendiri baru ada 14orang pelatih ( <a href="http://www.smart-action.net/the-key-elements-of-business-coaching.html">business coach</a> ) dan masih banyak dibutuhkan.</p>
<p>Saat ditanya apakah ada anaknya yang akan mengikuti jejaknya. Agus menjawab belum tau. Namun sebagai orangtua dirinya cukup democrat.”Yang pasti mereka harus tanggung jawab pada putusannya. Dan itulah yang akan membuatnya dewasa” ucapnya. Menariknya, ilmu yang didapat dari ActionCoach pun ia terapkan dalam hidup.</p>
<p>Yang membuatnya cukup bersyukur adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya edukasi bisnis sudah meningkat. Hal itu terbukti dengan banyaknya orang yang hadir dalam seminar ActionCoach serta meningkatnya klien dari lembaga ini. “Ya, kurang lebih dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini” tutupnya.</p>
<p>(article source: Puri Magazine)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/business-coach-agus-gunario.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiprah Franchise ActionCOACH sebagai leader dalam Industri Business Coach</title>
		<link>http://www.smart-action.net/kiprah-franchise-actioncoach-sebagai-leader-dalam-industri-business-coach.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/kiprah-franchise-actioncoach-sebagai-leader-dalam-industri-business-coach.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 11:23:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[American Film Institute]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[business coaching]]></category>
		<category><![CDATA[Chief operating officer]]></category>
		<category><![CDATA[Directories]]></category>
		<category><![CDATA[Dublin]]></category>
		<category><![CDATA[Franchising]]></category>
		<category><![CDATA[Ireland]]></category>
		<category><![CDATA[Opportunities]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Kesuksesan franchise ActionCOACH yang telah mendunia tidak perlu diragukan lagi. Berdiri di tahun 1993 dan hingga saat kini telah memiliki 1000 Business Coach (franchisee) dengan total 700 kantor operasional yang tersebar di 26 negara, perusahaan waralaba yang bergerak di bidang Business Coach ini menjadi perhatian dunia, dikarenakan begitu cepatnya pertumbuhan mereka hingga mendapat penghargaan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesuksesan franchise ActionCOACH yang telah mendunia tidak perlu diragukan lagi. Berdiri di tahun 1993 dan hingga saat kini telah memiliki 1000 Business Coach (franchisee) dengan total 700 kantor operasional yang tersebar di 26 negara, perusahaan waralaba yang bergerak di bidang Business Coach ini menjadi perhatian dunia, dikarenakan begitu cepatnya pertumbuhan mereka hingga mendapat penghargaan dari beberapa asosiasi franchise dunia, seperti : </p>
<p>   1.  Action Man Award di Fiji 2006<br />
   2. Action Man Award di Regional Conference Goldcoast 2007<br />
   3. Most Improve Territory In The World Regional Conference 2007<br />
   4. Action Man Award Global Conference Dublin 2007<br />
   5. ML (Master License) of the Year Dublin 2007<br />
   6. 1# Business Consulting Franchise In the World ( Entrepreuner Magazine).<br />
   7. A Stevie Winner in The Prestigious 2006 International Business Awards, Best Overall Company category.<br />
   8. Top 50 Franchise in the 2006 Franchise Satisfaction Award conducted by The Franchise Business Review.<br />
   9. The Winner of Prestigious 2005 Franchise of the Year in Ireland.<br />
  10. UK Franchise Provider of the year By Business Britain Magazine<br />
  11. The Prestigious Australian Business Award for Enterprise.</p>
<p>Selain itu, di tanah air, waralaba Action Coach juga telah memperoleh penghargaan Tingkat  Nasional`seperti</p>
<p>   1. ISMBEA Award 2007 oleh Menteri Negaraa Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Suryadharma Ali.<br />
   2. The Best Indonesia Franchisee of The Year 2007 oleh Asosiasi Franchise Indonesia ( AFI) atas nama Coach Yusa Aziz.<br />
   3. The Best Indonesia Franchisor of The Year 2008 oleh Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) atas nama Herman Susanto, COO IndoAction.</p>
<p>article source: http://www.franchisekey.com/id/berita-waralaba/Kiprah-Franchise-ActionCOACH-sebagai-leader-dalam-Industri-Pelatihan-Bisnis.htm</p>
<div style="margin-top: 10px; height: 15px;" class="zemanta-pixie"><a class="zemanta-pixie-a" href="http://reblog.zemanta.com/zemified/a6bb130c-993a-4a65-be0b-f1252a51de9c/" title="Reblog this post [with Zemanta]"><img style="border: medium none ; float: right;" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=a6bb130c-993a-4a65-be0b-f1252a51de9c" alt="Reblog this post [with Zemanta]"></a><span class="zem-script more-related pretty-attribution"><script type="text/javascript" src="http://static.zemanta.com/readside/loader.js" defer="defer"></script></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/kiprah-franchise-actioncoach-sebagai-leader-dalam-industri-business-coach.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjajal Action Business Coach</title>
		<link>http://www.smart-action.net/menjajal-action-business-coach.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/menjajal-action-business-coach.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 11:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[business coaching]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Action Business Coach, mungkin rata-rata businessman di Indonesia sudah kenal namanya. Dan semenjak kenal dan mencicipi dunia bisnis serta mengenal komunitas-komunitas bisnis seperti TDA, maka namanya juga seakan tidak lagi asing bagi saya. Nah, saat saya cuti beberapa minggu yang lalu, akhirnya saya berkesempatan juga untuk bertemu dan menjajal langsung kehandalan lembaga coaching yang didirikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Action Business Coach, mungkin rata-rata businessman di Indonesia sudah kenal namanya. Dan semenjak kenal dan mencicipi dunia bisnis serta mengenal komunitas-komunitas bisnis seperti TDA, maka namanya juga seakan tidak lagi asing bagi saya. Nah, saat saya cuti beberapa minggu yang lalu, akhirnya saya berkesempatan juga untuk bertemu dan menjajal langsung kehandalan lembaga coaching yang didirikan oleh Brad Sugar ini.</p>
<p>Yang pertama saya jajal adalah feature group coaching-nya. Diawali dari seminar TDW akhir Maret lalu, saya dan Taufik memutuskan untuk mengikuti seminar setengah hari yang diadakan oleh Smart Action Business Coach. Seminar ini sebetulnya adalah pengantar dari group coaching yang rencananya intensif dijalankan selama 3 bulan, dengan jadwal ketemuan 2 minggu sekali.<br />
Dibawakan oleh Pak Agus, penjelasannya memperjelas lagi prinsip 5 area untuk meningkatkan profit usaha kita, yaitu jumlah prospek, persentase konversi, frekuensi transaksi, volume penjualan dan persentase keuntungan atau margin.</p>
<p>Feature yang kedua yang saya coba untuk jajal adalah private coaching. Awalnya iseng mengirimkan sms ketika ada acara talkshow Action Coach di PasFM. Eh, ternyata ditawari oleh salesnya untuk datang ke kantornya untuk konsultasi gratis. Ya sudah, bareng Taufik akhirnya kita mendatangi kantor Action Coach di Wisma Antara. Selepas magrib, akhirnya sesi pun dimulai dan kami pun bertemu dengan salah satu coach disana, Pak Prijono Nugroho.</p>
<p>Sesinya cukup lama, sekitar 1.5 jam. Terus terang disana bisnis kami, Rumah Video, dikorek oleh Pak Prijono dengan sangat lugas. Kami berpendapat masalah utama kami adalah sales yang kurang, akan tetapi dengan contoh yang gamblang Pak Priyono menjelaskan bahwa akar masalahnya haruslah digali lebih dalam. Kami ditanya berapa jumlah prospek baru yang kami datangi dalam 3 bulan terakhir, persentase konversinya, frekuensi transaksinya dan seterusnya. Beliau berpendapat alih-alih kita fokus pada menambah prospek baru terlebih dahulu, mengapa kami tidak fokus pada faktor internal kami, yaitu meningkatkan persentase konversi dari prospek, atau meningkatkan frekuensi dan volume penjualan dari prospek yang sudah ada terlebih dahulu.</p>
<p>Intinya dalam sesi yang terasa singkat itu, kami banyak mendapatkan AHA baru. Bayangkan jika 5 area itu kami bisa tingkatkan masing-masing 10% saja, maka kami akan bisa mendapatkan laba sebesar 61%. Jadi lebih semangat lagi untuk coba mencapai targetan bulanan kita neh.</p>
<p>Di sesi itu sebetulnya saya sempat menanyakan juga kelanjutan program free coaching yang dijanjikan oleh Action Business Coach kepada member TDA. Pak Prijono pun menjawab bahwa saat ini mereka masih menyusun formulasi sistemnya. Akan ada seleksi ketat untuk bisa mendapatkannya dan kita diminta untuk bersabar.</p>
<p>Yah, akhirnya kita memang belum jadi memakai jasa Action Coach lebih lanjut. Sebetulnya pengen banget. Cman pertimbangan bisnis membuat kami memutuskan untuk saat ini belum feasible untuk bekerjasama lebih lanjut. Tapi, jujur disinilah saya melihat profesionalisme dari Pak Prijono. Beliau tetap dengan ringan sharing kepada kami walaupun jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat.</p>
<p>Malam sudah larut. Kami pun pulang dan kembali harus berhadapan dengan Jakarta yang macet abis (*wuihh, untung belum pernah merasakan berkantor di Segitiga Emas slama ini*). Cukup untuk bergurunya, yang penting adalah ACTION&#8230;.:)</p>
<p>Oh iya, berikut ada beberapa strategi yang sempat dicatat dari 2 pertemuan di atas.</p>
<p># 5 area meningkatkan profit</p>
<p>Jumlah prospek (1)</p>
<p>X % konversi (2) = Jumlah customer</p>
<p>X Frekuensi transaksi (3)<br />
X Volume penjualan (4) = Omzet<br />
X % keuntungan (5) = Profit</p>
<p># Strategi meningkatkan jumlah prospek</p>
<p>1. Networking<br />
2. Referral<br />
3. Press release<br />
4. Seminar dan events<br />
5. Brosur<br />
6. Iklan</p>
<p>Intinya, memperluas teritori.</p>
<p># Strategi meningkatkan % konversi</p>
<p>1. Garansi tertulis<br />
2. Menonjolkan keunikan<br />
3. Produk yang berkualitas<br />
4. Brosur yang berkualitas<br />
5. Penawaran menarik<br />
6. Coba dulu sebelum beli<br />
7. Demo produk<br />
8. Training team sales.</p>
<p>Intinya, dress for success.</p>
<p># Strategi meningkatkan frekuensi transaksi</p>
<p>1. Kualitas konsisten<br />
2. Kontak secara teratur<br />
3. Minta untuk kembali lagi<br />
4. Kartu member VIP<br />
5. Terima trade in<br />
6. Follow up</p>
<p>Intinya, under promise dan over deliver.</p>
<p># Strategi meningkatkan volume penjualan</p>
<p>1. Jual yang lebih mahal<br />
2. Impulse buying<br />
3. Buat paket<br />
4. Terima kartu kredit</p>
<p># Strategi menaikkan tingkat keuntungan</p>
<p>1. Jual barang yang untungnya besar<br />
2. Jual label sendiri<br />
3. Outsource.<br />
4. Meminimalkan kesalahan<br />
5. Efisiensi<br />
6. Produktivitas</p>
<p>Intinya, overhead minimum.</p>
<p>article source : http://setiawanbudi.blogspot.com/2008/05/menjajal-action-business-coach.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/menjajal-action-business-coach.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Business coaching</title>
		<link>http://www.smart-action.net/business-coaching.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/business-coaching.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 06:51:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[business coaching]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Business coaching
Business coaching adalah amalan yang memberikan dukungan dan nasihat kepada sesekali seorang individu atau kelompok dalam rangka membantu mereka untuk mengenali cara-cara di mana mereka dapat meningkatkan efektivitas kerja mereka. Business coaching bekerja untuk meningkatkan kepemimpinan, akuntabilitas karyawan, tim, penjualan, komunikasi, menetapkan tujuan, perencanaan strategis dan masih banyak lagi. Dapat diberikan dengan berbagai cara, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Business coaching</strong></p>
<p>Business coaching adalah amalan yang memberikan dukungan dan nasihat kepada sesekali seorang individu atau kelompok dalam rangka membantu mereka untuk mengenali cara-cara di mana mereka dapat meningkatkan efektivitas kerja mereka. Business coaching bekerja untuk meningkatkan kepemimpinan, akuntabilitas karyawan, tim, penjualan, komunikasi, menetapkan tujuan, perencanaan strategis dan masih banyak lagi. Dapat diberikan dengan berbagai cara, termasuk satu-satu pada pelajaran, grup sesi pelatihan dan seminar skala besar. Business coaching sering disebut dalam bisnis adalah ketika dikatakan kinerjanya jelek, namun banyak perusahaan mengakui keunggulan bisnis coaching bahkan ketika organisasi berhasil. Business coaching sering spesialis dalam berbagai bidang praktek seperti eksekutif coaching, perusahaan pelatihan dan pelatihan kepemimpinan.</p>
<p>Setidaknya dua organisasi, International Coaching Council (ICC) dan Worldwide Asosiasi Bisnis Coaches (WABC) menyediakan keanggotaan berbasis asosiasi profesional untuk terlibat dalam Business coaching. The ICC WABC dan juga memberikan accrediting sistem bisnis untuk program pelatihan pelatih. ICC yang saat ini memiliki lebih dari 1500 anggota dari lebih dari 50 negara.</p>
<p>Business coaching tidak sama dengan mentoring. Mentoring melibatkan hubungan antara pembangunan yang lebih berpengalaman &#8220;mentor&#8221; dan kurang berpengalaman mitra, dan biasanya melibatkan berbagi saran. J pelatih bisnis dapat berfungsi sebagai mentor mengingat bahwa ia memiliki keahlian dan pengalaman yang memadai. Namun, mentoring bukan merupakan bentuk usaha coaching. Pelatih bisnis yang baik tidak perlu ada usaha khusus keahlian dan pengalaman di bidang yang sama sebagai orang yang menerima pelatihan dalam rangka untuk memberikan pelatihan bisnis kualitas layanan. Coaching kebutuhan bisnis agar lebih terstruktur dan formal dari mentoring. [Kutipan diperlukan]</p>
<p>Business coaching sering membantu bisnis tumbuh dengan menciptakan dan mengikuti struktur, rencana strategis untuk mencapai tujuan yang disepakati. Beberapa organisasi profesional kereta untuk menawarkan pelatihan bisnis (Business coaching) untuk pemilik usaha yang tidak dapat mampu coaching perusahaan besar harga. [4]</p>
<p>Coaching praktek tidak dibatasi untuk ahli eksternal. Banyak organisasi mereka berharap para pemimpin dan menengah manajer pelatih mereka ke anggota tim terhadap kinerja lebih tinggi, peningkatan kepuasan kerja, pertumbuhan pribadi, dan pengembangan karir. Orang-orang yang kembali harapan mereka dengan pelatihan keterampilan dalam pelatihan, akses ke alat-alat masukan, dan / atau pelatihan khusus perilaku mereka yang dijelaskan dalam model kepemimpinan kompetensi. Beberapa link kompensasi untuk kegiatan pelatihan, namun demikian, sehingga kurang coaching oleh manajer</p>
<p>article source : http://en.wikipedia.org/wiki/Coaching#Business_coaching</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/business-coaching.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi Pengalaman Sekaligus Memanfaatkan Pasar</title>
		<link>http://www.smart-action.net/berbagi-pengalaman-sekaligus-memanfaatkan-pasar.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/berbagi-pengalaman-sekaligus-memanfaatkan-pasar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[business coaching]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[ADA satu kesamaan jawaban dari para penulis lokal ketika ditanya apa yang menjadi motivasi mereka menulis buku-buku jenis panduan atau how to atau juga sering disebut buku-buku self help, yakni penulis-penulis itu menulis buku karena ingin berbagi pengalaman atau pengetahuan kepada khalayak pembaca. Namun demikian, mereka tidak menampik bahwa peluang pasar yang cukup menjanjikan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ADA satu kesamaan jawaban dari para penulis lokal ketika ditanya apa yang menjadi motivasi mereka menulis buku-buku jenis panduan atau how to atau juga sering disebut buku-buku self help, yakni penulis-penulis itu menulis buku karena ingin berbagi pengalaman atau pengetahuan kepada khalayak pembaca. Namun demikian, mereka tidak menampik bahwa peluang pasar yang cukup menjanjikan dalam bisnis ini juga ikut berperan mendorong mereka menekuni pekerjaan sebagai penulis buku panduan.</p>
<p>KONDISI seperti ini dialami oleh penulis-penulis buku lokal yang saat ini justru terbilang sangat produktif seperti Rhenald Kasali, Andrias Harefa, maupun Anand Krishna. &#8220;Tujuan awal saya menulis buku bukanlah pertama-tama untuk mendapatkan pasar, tetapi lebih untuk berbagi apa yang menjadi pikiran-pikiran saya kepada mereka yang berminat,&#8221; kata Anand Krishna. Oleh karena itu, kendati Anand Krishna sekarang dikenal sebagai salah seorang penulis buku yang sangat produktif, namun pada awalnya ternyata ia tidak mempunyai niat untuk menjadi penulis buku.</p>
<p>Buku pertama karya Anand yang diterbitkan adalah hasil rekaman ceramah-ceramahnya yang dilakukan oleh salah seorang peserta warga asing yang sering mengikuti ceramah-ceramah tentang meditasi. Buku itu diterbitkan dalam bahasa Inggris dan hanya dicetak sebanyak 1.500 eksemplar karena hanya ditujukan kepada mereka yang berminat. Atas usulan salah seorang muridnya, buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul Kehidupan pada tahun 1997. Karena mendapat respon yang bagus dari masyarakat, sejak saat itulah Anand Krishna mulai rajin menerbitkan buku. Namun, ia baru secara khusus menulis setelah buku ke-5. Buku-buku sebelumnya yang diterbitkan merupakan hasil dari transkripsi ceramah-ceramahnya.</p>
<p>Seperti halnya Anand Krishna, Andrias Harefa penulis buku Manusia Pembelajar yang sudah dicetak ulang lebih dari 6 kali ini, salah satu motivasinya untuk menulis buku adalah keinginannya untuk menyentuh orang lain. &#8220;Saya ingin apa yang lalu-lalang di pikiran saya itu bisa di-share-kan atau dibagikan ke audience yang dalam kategori tertentu ada gunanya buat mereka,&#8221; tutur Harefa. Keinginannya untuk membantu orang lain lewat buku ini didasari oleh keprihatinannya melihat kondisi masyarakat yang kacau-balau akibat krisis ekonomi di awal tahun 1998. &#8220;Saya ingin menyentuh pembaca atau audience supaya dia tergerak menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri,&#8221; tambah Harefa. Oleh karena itu, buku-buku yang ditulis oleh Harefa berkutat dalam tiga tema, yakni pembelajaran (learnership), kepemimpinan (leadership), dan kewirausahaan (entrepreneurship) yang intinya agar orang menjadi lebih berdaya, percaya diri, dan mempunyai kemampuan alternatif untuk menghadapi situasi yang tidak menentu akibat krisis.</p>
<p>Selain itu, faktor lain yang mendorong Andrias Harefa menulis buku yang berkisar soal learnership, leadership, dan entrepreneurship adalah dari pengalamannya sebagai orang yang bergerak di bidang pelatihan bisnis (business coaching). &#8220;Sebagai pengajar di bidang pelatihan bisnis (business coaching) yang banyak berkutat dengan how to lewat pelatihan-pelatihan, saya melihat how to itu sangat gampang dilatihkan apabila why-nya jelas. Jadi, faktor why itu sangat penting. Oleh karena itu, saya mencoba membuat buku yang mengaitkan how to dengan why karena di Indonesia saya lihat ada kekosongan buku-buku jenis ini,&#8221; kata Andrias Harefa. Ia mengakui bahwa seluruh isi dari 21 bukunya yang sudah diterbitkan sejak tahun 1998 cenderung tidak berbicara soal kiat, tetapi lebih banyak berisi menggugah kesadaran orang. &#8220;Yang diperlukan orang itu sebetulnya adalah menggugah kesadaran, mereka sebenarnya sudah punya ini, punya itu. Jadi, bukan perkara skill,&#8221; ujar Harefa. Hal seperti inilah yang ia tuangkan dalam buku-buku karangannya. Contohnya, adalah buku Berwiraswasta dari Nol. Buku itu memperlihatkan kepada orang bahwa sebetulnya orang berusaha mulai dari nol itu bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.</p>
<p>BERBEDA dengan Anand dan Harefa, salah seorang penulis buku panduan lain yakni Rhenald Kasali termotivasi menulis buku-buku jenis panduan karena buku jenis ini lebih disukai dan dibutuhkan oleh pasar. &#8220;Waktu pertama kali menulis buku saya tidak mengerti, buku apa yang mesti dibikin. Terus saya kasih contoh buku ke beberapa orang, mereka kasih masukan sama saya. Jangan begitu, harus begini. Kita perlu buku kayak begini. Jadi, saya dikasih masukan sama pasar. Nah, saya kemudian membuat buku berdasarkan apa yang dibutuhkan pasar,&#8221; papar Rhenald.</p>
<p>Dari masukan itu ia menyimpulkan bahwa buku dibuat sehingga ilmu yang disampaikan tidak menjadi berat. Caranya, dalam buku itu harus selalu diberi contoh. Kenapa? Karena, manusia adalah pencontoh yang baik. Begitu dikasih contoh, mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk menafsirkannya. Dari situ, terbitlah bukunya yang pertama berjudul Manajemen Periklanan yang diterbitkan penerbit Grafiti Pers tahun 1992. Buku itu mendapat respon yang sangat bagus dari masyarakat sehingga menjadi best seller. Hingga saat ini buku itu sudah sembilan kali dicetak. &#8220;Nah, buat saya pengakuan pasar itu lebih penting daripada omongan di kalangan orang-orang yang tidak menulis buku,&#8221; kata Rhenald menambahkan. Dari pengalaman itu ia semakin berkeyakinan, bahwa apa yang telah ia kerjakan adalah sudah benar, yakni menulis buku dengan memberi banyak contoh. Setelah itu, lahirlah buku-buku jenis panduan lain hasil karyanya yang juga mendapat respon yang bagus dari masyarakat seperti buku Membidik Pasar, Sukses Melakukan Presentasi.</p>
<p>Sambutan yang positif dari masyarakat terhadap buku-buku jenis panduan terutama semenjak krisis ini membuka peluang pasar yang cukup menjanjikan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya termasuk buat para penulis buku itu sendiri. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan manakala penulis-penulis seperti Anand Krishna, Andrias Harefa, maupun penulis buku panduan lain menjadi sangat produktif. Anand Krishna, misalnya, selama tahun 1999 saja ia sanggup menulis buku hingga 15 judul buku. Suatu jumlah yang cukup fantastis bagi seorang penulis di Indonesia.</p>
<p>Andrias Harefa pun juga mengakui bahwa secara materi menjadi penulis buku cukup menjanjikan. Paling tidak dalam setahun ia bisa mendapat pemasukan antara Rp 40 juta hingga Rp 60 juta rupiah dari hasil royalti dan komisi penjualan dari buku-bukunya. Namun, selain keuntungan materi secara langsung para penulis itu sepakat bahwa mereka mendapatkan keuntungan yang jauh lebih berarti setelah mereka menjadi penulis buku. &#8220;Di Indonesia menulis buku tidak bisa menjadi pegangan, tapi menulis buku bisa membuat orang menjadi lebih kaya. Dengan menulis buku dia akan dikenal banyak orang. Pemikirannya akan diakui orang sehingga kredibilitasnya naik. Kalau kredibilitas naik harga dia akan naik dengan sendirinya, uang akan datang sendiri. Bagi anak-anak kita, mereka hidupnya menjadi lebih bermakna karena tahu ayahnya atau ibunya dikenal sebagai seorang penulis buku dan kalau kita mati, di perpustakaan ada nama kita. Keuntungan-keuntungan itu bernilai jauh lebih besar dibanding hasil dari buku itu sendiri, yang paling-paling kita mendapat royalti sebesar 10 persen,&#8221; papar Rhenald Kasali.(wen/bip/nur/umi).</p>
<p>Diminati karena Bermanfaat</p>
<p>KEHADIRAN buku-buku jenis panduan yang cukup marak terutama semenjak krisis ekonomi yang melanda negeri ini sejak tahun 1998 lalu ternyata mendapat tempat di hati masyarakat. Buku-buku petunjuk praktis ini banyak diminati karena dengan membaca buku-buku tersebut masyarakat mengaku bisa mendapat banyak manfaatnya. Hasil ini terekam dari hasil jajak pendapat Kompas terhadap 931 pemilik telepon yang tersebar di 10 kota besar di Indonesia tanggal 11-12 Juni lalu.</p>
<p>Minat masyarakat yang cukup tinggi terhadap buku-buku jenis panduan yang juga sering disebut buku-buku how to atau self help ini terlihat dari tingginya persentase responden yang pernah membaca buku-buku jenis tersebut. Setidaknya mendekati 60 persen responden yang mengaku pernah membaca buku-buku yang kebanyakan berisi kiat-kiat, petunjuk praktis maupun pemberdayaan diri tersebut. Proporsi seperti itu tergolong tinggi, terutama melihat masih rendahnya budaya baca buku yang ada di masyarakat Indonesia saat ini. Hal ini memperlihatkan bahwa buku-buku jenis panduan memang diminati oleh sebagian besar masyarakat.</p>
<p>Tingginya antusiasme masyarakat terhadap buku-buku panduan tidak terlepas dari besarnya manfaat yang bisa diperoleh dari membaca buku-buku itu. Hampir seluruh responden, yakni sekitar 97 persen responden yang pernah membaca buku-buku panduan mengakui bahwa membaca buku-buku panduan ada manfaatnya. Tingginya persentase pembaca yang memperoleh manfaat dari membaca buku-buku panduan ini bisa dilihat sebagai salah satu keberhasilan dari penerbitan buku-buku jenis panduan ini. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila buku-buku jenis masih sangat diminati oleh masyarakat. Terlebih buat sebagian besar masyarakat Indonesia yang sangat membutuhkan pegangan setelah mengalami krisis kepercayaan akibat krisis multidimensi yang melanda beberapa tahun belakangan ini. (wen)</p>
<p>article source:http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0306/21/pustaka/379952.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/berbagi-pengalaman-sekaligus-memanfaatkan-pasar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Business Coach-Cara Mengurangi Kerugian Bisnis</title>
		<link>http://www.smart-action.net/business-coach-cara-mengurangi-kerugian-bisnis.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/business-coach-cara-mengurangi-kerugian-bisnis.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 14:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Cara Mengurangi Kerugian di Bisnis?
Pertanyaan ini sering tidak terlalu diperhatikan pemilik usaha karena banyak pemilik usaha yang mengalami kesulitan lebih banyak berpikir bagaimana caranya mendapatkan pelanggan lebih banyak, omzet lebih besar, ataupun profit yang lebih besar.
Sayangnya sebelum kita bisa mencapai itu semua, kunci pertama yang harus kita capai bila bisnis kita mengalami kerugian adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana Cara Mengurangi Kerugian di Bisnis?</p>
<p>Pertanyaan ini sering tidak terlalu diperhatikan pemilik usaha karena banyak pemilik usaha yang mengalami kesulitan lebih banyak berpikir bagaimana caranya mendapatkan pelanggan lebih banyak, omzet lebih besar, ataupun profit yang lebih besar.</p>
<p>Sayangnya sebelum kita bisa mencapai itu semua, kunci pertama yang harus kita capai bila bisnis kita mengalami kerugian adalah mengurangi kerugian itu. Langkah apa saja yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai hal ini? Brad Sugars, billionaire, business coach dan penulis buku dari Action Coach telah memberikan tip yang bernama Mastery Level yang sebaiknya dicapai oleh pemilik bisnis. Strategi ini sudah diimplentasi dengan sukses di 23 negara termasuk lebih dari 130 perusahaan menengah dan kecil di Indonesia.</p>
<p>Apa Mastery Level itu?<br />
Goal daripada Mastery Level adalah untuk pemilik bisnis untuk dapat mengkontrol team, time dan moneynya dari kekacauan. Menurut Brad Sugars, bila pemilik bisnis mengalami beberapa gejala seperti omset dan profit yang naik turun, waktu yang tidak pernah cukup untuk dinikmati karena kesibukan bisnis dan juga penyajian servis dan produk yang tidak kosisten, maka mastery level lah yang harus dicapai untuk mengurangi kerugian sebelum mencapai profit yang optimal.</p>
<p>Menurut Brad, ada 3 mastery yang sebaiknya dicapai oleh pemilik bisnis yaitu: time mastery, money mastery dan delivery mastery.Money mastery adalah suatu proses mencakup dua area yang patut dikuasai untuk mengurangi dan menghilangkan kerugian: break even mastery dan profit margin mastery.</p>
<p>Break even mastery adalah suatu perhitungan yang patut dilakukan agar si pemilik bisnis mengetahui berapa minimum transaksi yang harus dia capai agar agar biaya operasionalnya per hari, perbulan dan pertahun tercukupi. Pada dasarnya, ada 2 komponen yang harus diketahui oleh pemilik bisnis untuk mencapai break even mastery, yaitu: average Rp sale dan fixed cost.</p>
<p>Hitunglah fixed cost selama setahun, lalu dibagi 12 dan anda akan mendapatkan biaya operasional per bulan. Bila ini anda bagi 30 hari atau jumlah hari bisnis anda berjalan, anda akan mendapatkan biaya operasional perharinya.</p>
<p>Average $ sale atau average Rp sale adalah nilai penjualan rata-rata dari pelanggan anda. Cara mendapatkannya adalah dengan membagi jumlah total omzet anda per tahun atau perbulan yang dibagi dengan jumlah pelanggan/customers anda pada periode pertahun atau perbulan. Contohnya, bila omzet anda Rp 100 juta/bulan dan ada 100 pelanggan di bulan tersebut, maka average Rp sale anda adalah Rp 100 juta dibagi 100 pelanggan, yaitu Rp 1 juta. Jadi untuk mendapatkan jumlah transaksi perbulan yang dibutuhkan untuk menutup biaya operasional adalah adalah dengan membagi total fixed cost dalam periode tertentu (perbulan atau perhari) dengan average $ sale. Contohnya: bila fixed cost anda perbulan adalah Rp 50 juta dan average Rp sale anda Rp 2 juta, maka dalam satu bulan anda harus mendapatkan minimum 25 transaksi perbulan (informasi lebih tentang profit margin mastery bisa didapatkan di buku Business Coach dari Brad Sugars).</p>
<p>Time mastery dan delivery mastery adalah 2 area yang sebaiknya dikuasai setelah money mastery. Time mastery adalah level dimana pemilik bisnis bisa mengatur waktunya dengan planning yang tepat. Banyak pemilik bisnis merasakan mereka seperti terjajah oleh aktivitas bisnisnya, sehingga mereka tidak pernah memiliki waktu untuk menikmati hasil bisnisnya dan melainkan waktunya habis hanya untuk mengurusi bisnis. Bagaimana cara agar pemilik bisnis dapat memiliki waktu untuk menikmati hasil bisnisnya? Menurut Brad Sugars, pemilik bisnis harus dapat memilah-milah waktu kapan dia harus melakukan yang namanya “working on the business” dan kapan mereka melakukan “working in the business.”</p>
<p>Working in the business adalah aktifitas pekerjaan bisnis yang berhubungan dengan rutinitas. Contohnya, seorang hairdresser salon dalam pekerjaannya memotong rambut dan menatanya adalah tugas working in the business. Jadi bila dia mengambil keputusan untuk membuat bisnis salon sendiri dan kemudian dia disibukkan hanya dengan kegiatan yang sama dengan waktu dia masih bekerja di salon orang, yaitu memotong rambut, berarti dia masih melakukan working in the business. Masalahnya adalah pada saat dia sudah memiliki salon sendiri, banyak aktivitas lainnya yang dia harus pelajari dan lakukan seperti sales, marketing, customer service, finance dan lain-lain yang dulu waktu dia masih bekerja, dia tidak lakukan. Jadi bila dia hanya melakukan working in the business, sebagai pemilik bisnis, tidak ada orang lain yang melakukan aktivitas working on the business nya seperti sales, marketing, customer service, dll, kamungkinan besar salonnya akan tutup karena dia akan merasa lelah dan kembali lagi bekerja sebagai karyawan.</p>
<p>Untuk mendapatkan keseimbangan antara working on dan working in the business, time mastery planning sangat dibutuhkan. Caranya, tulislah aktivitas anda berdasarkan kategori-kategori: aktivitas yang not important (tidak penting) dan not urgent (tidak mendesak), not important (tidak penting) tapi urgent (mendesak), important (penting) dan urgent (mendesak) dan yang terakhir adalah important (penting)dan not urgent (tidak mendesak). Setelah anda megidentifikasi semua aktivitas ini, pastikan anda buang aktivitas yang mencakup not important, not urgent, dan not important urgent.</p>
<p>Setelah itu pastikan 80% waktu anda di dedikasikan ke aktivitas yang important not urgent yang merupakan aktivitas working on the business dan 20% waktu anda di aktivitas important dan urgent. Dengan melakukan hal ini, aktivitas anda akan mengikuti planning aktivitas yang memang anda sudah siapkan, sehingga anda akan mempunyai cukup waktu untuk melakukan aktivitas seperti sales, marketing, customer service, operation, finance dan lain-lain dimana aktivitas working in the businessnya bisa didelegasikan ke orang lain yang memang sudah bisa melakukan standarisasi anda (untuk lebih detailnya, bisa dibaca di buku Business Coach dari Brad Sugars).</p>
<p>Mastery yang terakhir adalah delivery mastery. Apakah delivery mastery itu? Delivery mastery adalah suatu penguasaan proses pemilik bisnis menservis pelanggannya. Contohnya, apa kah anda pernah datang untuk makan di restoran karena iklan yang anda lihat di TV atau majalah? Bila ya, pernahkah anda kemudian merasa kecewa karena rasa makanannya tidak enak atau servisnya jelek? Bila jawabannya ya, berarti restoran tersebut belum mencapai delivery mastery. Apalah gunanya beriklan untuk mendapatkan banyak pelanggan bila delivery mastery belum tercapai? Yang ada berita buruk tentang tidak enaknya makanan di resto tersebut atau berita mengenai servis yang buruk yang akan menyebar lebih cepat karena iklan anda. Bagaimana menyikapi hal ini? Tujuan delivery mastery adalah lebih untuk mencapai konsistensi standard sevis dan produk tertentu daripada memikirkan bagaimana memberikan servis yang luar biasa tetapi tidak konsisten. Berdasarkan survey, kenyataannya pelanggan lebih memilih mendapatkan servis yang bagus secara konsisten dibanding servis atau produk yang luar biasa tetapi tidak konsisten.</p>
<p>Kembali lagi bila kita bertanya tentang bagaimana cara mengurangi kerugian di bisnis? Menurut Brad Sugars , kuncinya adalah Mastery level. Capailah Mastery di sisi money (uang), time (waktu) dan delivery (penyampaian).</p>
<p>article source: http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=10885</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/business-coach-cara-mengurangi-kerugian-bisnis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Business Coach-Solusi Bagi Dunia Bisnis</title>
		<link>http://www.smart-action.net/business-coach-solusi-bagi-dunia-bisnis.html</link>
		<comments>http://www.smart-action.net/business-coach-solusi-bagi-dunia-bisnis.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 14:55:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Action</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.smart-action.net/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Business Executive Coaching &#8211; Solusi bagi Dunia Bisnis
Seorang CEO dari perusahaan berbasis teknologi informasi global di Indonesia mengeluhkan banyaknya permasalahan internal dan eksternal yang dihadapinya dalam memimpin perusahaan. Keluhan tersebut semakin menjadi-jadi. Ia pun mengajak rekannya BT Lim, mantan CEO HP Indonesia dan Mobile 8, untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapinya. Dalam pertemuan tersebut, sang CEO [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Business Executive Coaching &#8211; Solusi bagi Dunia Bisnis</p>
<p>Seorang CEO dari perusahaan berbasis teknologi informasi global di Indonesia mengeluhkan banyaknya permasalahan internal dan eksternal yang dihadapinya dalam memimpin perusahaan. Keluhan tersebut semakin menjadi-jadi. Ia pun mengajak rekannya BT Lim, mantan CEO HP Indonesia dan Mobile 8, untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapinya. Dalam pertemuan tersebut, sang CEO yang orang bule itu meminta bantuan BT Lim untuk menjadi pembimbingnya. Setelah melakukan tanya-jawab, akhirnya BT Lim menerima permintaan tersebut. Jadilah dia sebagai pembimbing bisnis dengan kesepakatan awal selama 6 bulan.</p>
<p>Jasa pembimbingan bisnis ataupun eksekutif termasuk hal yang relatif baru di Indonesia. Gede Prama, pendiri Dynamic Consulting dan salah satu pembicara publik yang memikat, boleh disebut sebagai perintisnya di Indonesia. Sekitar tahun 2000, Gede yang mantan CEO Jamu Air Mancur itu diminta oleh pengusaha senior Mugijanto, untuk menjadi pembimbing bagi anak tertuanya Dyanti A. Mugijanto, agar sang anak benar-benar menjadi pemimpin bisnis yang tangguh.</p>
<p>Selain faktor kesibukan, Pak Mugi – begitu ia sering dipanggil – tidak memiliki keahlian untuk menyiapkan sang anak sebagai kader penerus kepemimpinan perusahaannya. “Lagi pula, kondisi bisnir telah jauh berubah dibandingkan era saya dulu. Ilmu yang dulu cocok, sekarang mungkin tidak bisa dipakai lagi,” ungkapnya beberapa waktu lalu (lihat tulisan &#8220;Suksesi Perusahaan Keluarga, red).</p>
<p>BT Lim dan Gede Prama memposisikan dirinya sebagai Personal Executive Coach, yang memberikan layanan kepada perusahaan tanpa harus mengusung nama perusahaan. Selain mereka, belakangan ini mulai bermunculan jasa pembimbingan bisnis berbentuk perusahaan seperti OTI dan Action International. Menurut Naresh Makhijani, CEO OTI, perusahaannya mengembangkan layanan pembimbingan bisnis setelah melakukan sejumlah persiapan.</p>
<p>Salah satunya, Naresh sendiri telah mengambil Sertifikasi Business Coaching di luar negeri. “Di luar negeri, orang-orang yang memberikan business coaching harus mendapatkan sertifikasi terlebih dahulu,” ungkapnya kepada Human Capital.</p>
<p>Menurut Stratford Sherman dan Alyssa Freas dalam bukunya The Wild West of Executive Coaching, pembimbingan merupakan faktor strategik bagi keberhasilan perusahaan. Pembimbingan itu seyogyanya memadukan pengembangan diri dan kebutuhan organisasi. Pendekatan strategik ini akan membantu pemimpin beradaptasi terhadap tanggung jawab baru, mengurangi perilaku destruktif, meningkatkan retensi, mendorong kerjasama tim, menyelaraskan tujuan individu dengan tujuan bersama, memfasilitasi suksesi, dan mendukung perubahan organisasi.</p>
<p>BT Lim berpendapat, program pembimbingan bisnis merupakan proses terencana untuk menciptakan lingkungan pendukung bagi perusahaan untuk bertumbuh dan mengambil tindakan dengan menumbuhkembangkan eksekutif potensial. Pembimbingan adalah proses orang per orang, sebuah hubungan antar individu, antara perusahaan dengan pembimbing, dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan kinerja eksekutif yang bersangkutan sehingga pada akhimya meningkatkan kinerja bisnis secara keseluruhan.</p>
<p>“Perusahaan membutuhkan jasa pembimbingan karena tujuan setiap orang berbeda-beda dan harus disatukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Pembimbingan berusaha mengisi gap kompetensi personal dengan kompetensi profesional yang dibutuhkan perusahaan, Tidak ada orang yang sempurna, termasuk CEO sekalipun,” ungkapnya.</p>
<p>Keberhasilan seorang eksekutif sangat ditentukan oleh lingkungan tempatnya berada. Banyak sekali eksekutif gagal karena tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal, tidak mampu mengelola orang, dan tidak piawai dalam pengambilan keputusan. Tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal, misalnya omongan seorang CEO terlalu tinggi untuk level di bawahnya, sehingga seorang pembimbing bisa menjembataninya. Atau strategi bisnis yang disusunnya tidak bisa dilaksanakan karena hanya bersifat makro atau terlalu &#8220;tinggi”.</p>
<p>Ada juga CEO yang kurang piawai mengelola orang sehingga kebijakan bisnis yang telah dibuat tidak jalan. Sedangkan, masalah ketidakpiawaian mengambil keputusan bisa karena dalam kondisi sulit mereka tidak bersikap rasional. “Sebagai konsultan, seorang coach selalu harus bertindak rasional,” tambahnya,</p>
<p>Umumnya perusahaan konsultan pembimbingan bisnis lebih menyukai program pembimbingan secara terpadu, di mana pihak yang harus dibimbing mulai dari manajer ke atas. Hal ini juga sangat ditentukan oleh besarnya ukuran perusahaan, usia perusahaan, dan kompetensi kepemimpinan dalam perusahaan. Sebagai contoh, pembmbingan tidak dilakukan terhadap perusahaan yang baru berdiri atau belum mencapai tahap perkembangan awal. Alasannya, tutur Mike R. Jay, seorang pembimbing bisnis terkemuka yang baru-baru ini memberikan training di Jakarta, 80% dari perusahaan baru umumnya gagal untuk bertahan hidup.</p>
<p>“Perusahaan yang bisa diberikan jasa pembimbingan bisnis adalah mereka yang telah memiliki model bisnis yang jelas namun membutuhkan penyempurnaan kepemimpinan untuk meningkatkan kinerja bisnisnya lebih lanjut,” katanya. Dalam sistem pembimbingan bisnis terpadu, inisiatif pembimbingan biasanya diperlukan setelah perusahaan menerapkan rencana pengembangan individual (Individual Development Plan) untuk mendapatkan peningkatan kinerja individu secara berkelanjutan. Seringkali rencana pengembangan individual itu tidak sepenuhnya berhasil mencapai sasaran, yaitu untuk mendapatkan kader-kader eksekutif berkualitas. Untuk mengatasinya, perusahaan memerlukan program pembimbingan.</p>
<p>Program pembimbingan strategik mencakup seluruh kader eksekutif. Melalui program ini, perusahaan secara terdisiplin memperdalam hubungan dengan karyawan terpenting sekaligus meningkatkan efektivitasnya. “Program pembimbingan paling penting menyangkut perubahan kultur untuk keberhasilan seluruh organisasi,” tukas Stratford Sherman dan Alyssa Freas.</p>
<p>Berbeda dengan mentor, advisor, atau trainer, menurut Mike R. Jay, program pembimbingan membutuhkan adanya dialog dengan sponsor (perusahaan atau pimpinan perusahaan) maupun dengan indvidu yang dibimbing. Keterbukaan antara pihak-pihak yang terkait menjadi prasyarat mutlak untuk keberhasilan sebuah program pembimbingan. Hanya dengan keterbukaan, si pembimbing bisa memberikan bimbingan untuk meningkatkan kapabilitasnya sehingga pada akhimya kinerjanya meningkat.</p>
<p>Hal senada diungkapkan oleh BT Lim. “Bahkan, urusan pribadi pun bisa saja dibicarakan bila itu mempengaruhi kinerja si eksekutif.” Dalam wawancara beberapa waktu lalu, Gede Prama dengan lugas mendeskripsikan peran seorang pembimbing eksekutif: “Kadang-kadang jadi psikolog, jadi konsultan bisnis, kadang-kadang jadi kiai, jadi teman, dan lain kali jadi ayah,” lanjutnya sambil tersenyum.</p>
<p>Bersifat terbuka tentu membutuhkan kepercayaan penuh dari eksekutif yang dibimbing terhadap seorang executive coach. Kepercayaan dimaksud hanya mungkin diberikan kepada orang yang telah cukup dikenal secara pribadi (bila yang dibimbing adalah eksekutif puncak) dan memiliki reputasi tinggi sebagai seorang CEO atau pembimbing eksekutif. Menjadi pembimbing eksekutif yang sukses, sebaiknya ia telah mengenyam posisi CEO sehingga memahami sepenuhnya berbagai aspek manajemen perusahaan. Ia pun bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman dari apa yang pemah diterapkannya saat memimpin perusahaan. “Yang dijual oleh pembimbing eksekutif kan, track record-nya sebagai eksekutif,” ujar BT Lim mengingatkan.</p>
<p>Tugas sebagai pembimbing bisnis jelas tak ringan. Perusahaan menggunakan pembimbing eksekutif karena sejumlah alasan: menyusun dan mewujudkan tujuan yang lebih baik dan lebih cepat, menciptakan perubahan yang signifikan, menjadikan si eksekutif lebih profesional, membuat keputusan lebih baik, mampu berkolaborasi dengan orang lain, dan lebih fokus pada pemecahan masalah bisnis. Dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa mewujudkan harapan perusahaan tersebut.</p>
<p>Terhadap si eksekutif yang dibimbing, BT Lim melihat beberapa dampak positif dari pembimbingan, seperti lebih piawai dalam menyusun dan mewujudkan tujuan, menjadi lebih tangguh, bisa meraih kepuasan dalam bekerja dan hidup, lebih mampu berkontribusi bagi tim dan organisasi, mampu berkomunikasi lebih efektif, dan sebagainya. Banyak manfaat personal dan profesional yang bisa didapatkan eksekutif dari program pembimbingan. Termasuk di antaranya mengurangi beban stres sehingga mereka bisa fokus pada pekerjaan yang lebih strategik sifatnya</p>
<p>Mike R. Jay mengatakan, proses pembimbingan biasanya terdiri dari 3 tahap: tahap penyusunan struktur, tahap permulaan, dan tahap pelaksanaan proses pembimbingan. Tahap pertama mencakup kesepakatan kontrak pembimbingan, menyusun standar kinerja, menjelaskan hasil yang ingin dicapai, mendefinisikan sukses menurut pemahaman pimpinan, dan menyusun strategi pengakhiran (exit strategy). Tahap permulaan meliputi pemanfaatan alat asesmen, mengidentifikasi zona kenyamanan, membangun kepercayaan, dan sebagainya. Tahap terakhir fokus pada implementasi sistem pembimbingan dan melakukan evaluasi terhadap pencapaian kinerja.</p>
<p>Kontrak kerjasama lazimnya memuat kesepakatan tentang lingkup pekerjaan, jangka waktu pembimbingan, dan indikator pengukuran keberhasilan proses pembimbingan. Dalam kontrak juga termuat tentang kesepakatan untuk menjaga kerahasiaan informasi (non-disclosure agreement). Artinya, seorang coach harus menjaga betul agar semua informasi yang terkuak tidak akan diberitahukan kepada siapa pun – termasuk setelah proses pembimbingan berlangsung. “Kesepakatan ini sangat penting untuk membuat klien menjadi lebih terbuka,” tegas BT Lim.</p>
<p>Jangka waktu kontrak pembimbingan biasanya minimal 6 bulan dan paling lama 1 tahun. Indikator keberhasilan pembimbingan yang diukur mencakup kinerja kerja kualitatif dan kuantitatif – yang terakhir termasuk kinerja keuangan perusahaan (pendapatan dan profitabilitas). Proses evaluasi secara rutin dilakukan setiap bulan untuk menilai kemajuan pembimbingan. Seorang coach dibayar per bulan, namun tidak tertutup kemungkinan dibayar per paket seperti dalam kasus Gede Prama.</p>
<p>Karena membimbing CEO perusahaan asing, BT Lim dibayar dalam dolar Amerika. Pembayaran secara resmi dilakukan oleh perusahaan karena program pembimbingan yang dia lakukan resmi menjadi agenda perusahaan. Di luar bayaran bulanan, BT Lim juga meminta insentif tambahan berdasarkan pencapaian kinerja bisnis perusahaan. “Insentif itu memang sepenuhnya berasal dari inisiatif pribadi. Saya tidak tahu apakah itu lazim atau tidak,” ungkapnya berterus terang.</p>
<p>Mahalkah biaya yang harus dikeluarkan perusahaan? Tidak ada yang mau mengungkap angka nominalnya. Toh BT Lim tidak mau terlalu mematok harga untuk perusahaan lokal. “Saya masih punya idealisme untuk memajukan perusahaan lokal,” katanya serius. Ditanya kapasitasnya untuk membimbing eksekutif, BT Lim menjawab 5-6 eksekutif per bulan. &#8220;Jumlah sebanyak itu masih bisa saya layani dengan profesional,” tambahnya.</p>
<p>Cara kerja seorang coach merupakan kombinasi pertemuan di ,kantor dengan pertemuan di kafe/restoran dan melalui telepon. Pertemuan di kantor klien umumnya berlangsung sekitar 2 jam setiap kali pertemuan berdasarkan permintaan klien. “Mirip eksekutif panggilan,” ujar BT Lim terbahak. Pertemuan di kantor sekitar 2 kali seminggu. Pertemuan di kafe / restoran relatif lebih sering, terutama pada jam makan malam. Pertemuan dilakukan tidak hanya pada hari kerja. “Bisa saja hari Sabtu,” kata BT Lim lagi. Namun, yang paling sering adalah pembicaraan via telepon. Bisa mencapai 4 jam per minggu.</p>
<p>Sekilas beban kerja seorang executive coach tampak ringan. Tetapi hal ini ditampik oleh Mike R. Jay dan BT Lim. “Sebagai coach, kami harus benar-benar mempersiapkan diri karena advis kami dipergunakan untuk meningkatkan kinerja eksekutif maupun perusahaan,’ ujar mereka di tempat terpisah. Dinamika dan kompleksitas dunia bisnis mengharuskan pula mereka untuk selalu update dengan perkembangan dalam dunia bisnis.</p>
<p>Pada akhimya, tutur BT Lim, tujuan dari proses pembimbingan adalah menanamkan keyakinan kepada para eksekutif untuk menentukan nasib mereka sendiri. Kalau tidak, orang lain yang akan menentukan nasib Anda. Ini seperti yang diungkapkan Jack Welch, legenda CEO GE: “Control your own destiny or someone else will.”</p>
<p>Sumber: Majalah Human Capital No 19 | Oktober 2005</p>
<p>article source: http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/bisnis/1id304.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.smart-action.net/business-coach-solusi-bagi-dunia-bisnis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
