Ruko Serpong Town Square Blok A1 No 23 - Jl.MH Thamrin-Tangerang-INDONESIA. Telp/Fax.(021)55755202 Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community

Business Coach-Solusi Bagi Dunia Bisnis

1 January 2009
Penulis: Smart Action   · Kategori Artikel: Entrepreneurship

Business Coach-Solusi Bagi Dunia Bisnis

Business Executive Coaching – Solusi bagi Dunia Bisnis

Seorang CEO dari perusahaan berbasis teknologi informasi global di Indonesia mengeluhkan banyaknya permasalahan internal dan eksternal yang dihadapinya dalam memimpin perusahaan. Keluhan tersebut semakin menjadi-jadi. Ia pun mengajak rekannya BT Lim, mantan CEO HP Indonesia dan Mobile 8, untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapinya. Dalam pertemuan tersebut, sang CEO yang orang bule itu meminta bantuan BT Lim untuk menjadi pembimbingnya. Setelah melakukan tanya-jawab, akhirnya BT Lim menerima permintaan tersebut. Jadilah dia sebagai pembimbing bisnis dengan kesepakatan awal selama 6 bulan.

Jasa pembimbingan bisnis ataupun eksekutif termasuk hal yang relatif baru di Indonesia. Gede Prama, pendiri Dynamic Consulting dan salah satu pembicara publik yang memikat, boleh disebut sebagai perintisnya di Indonesia. Sekitar tahun 2000, Gede yang mantan CEO Jamu Air Mancur itu diminta oleh pengusaha senior Mugijanto, untuk menjadi pembimbing bagi anak tertuanya Dyanti A. Mugijanto, agar sang anak benar-benar menjadi pemimpin bisnis yang tangguh.

Selain faktor kesibukan, Pak Mugi – begitu ia sering dipanggil – tidak memiliki keahlian untuk menyiapkan sang anak sebagai kader penerus kepemimpinan perusahaannya. “Lagi pula, kondisi bisnir telah jauh berubah dibandingkan era saya dulu. Ilmu yang dulu cocok, sekarang mungkin tidak bisa dipakai lagi,” ungkapnya beberapa waktu lalu (lihat tulisan “Suksesi Perusahaan Keluarga, red).

BT Lim dan Gede Prama memposisikan dirinya sebagai Personal Executive Coach, yang memberikan layanan kepada perusahaan tanpa harus mengusung nama perusahaan. Selain mereka, belakangan ini mulai bermunculan jasa pembimbingan bisnis berbentuk perusahaan seperti OTI dan Action International. Menurut Naresh Makhijani, CEO OTI, perusahaannya mengembangkan layanan pembimbingan bisnis setelah melakukan sejumlah persiapan.

Salah satunya, Naresh sendiri telah mengambil Sertifikasi Business Coaching di luar negeri. “Di luar negeri, orang-orang yang memberikan business coaching harus mendapatkan sertifikasi terlebih dahulu,” ungkapnya kepada Human Capital.

Menurut Stratford Sherman dan Alyssa Freas dalam bukunya The Wild West of Executive Coaching, pembimbingan merupakan faktor strategik bagi keberhasilan perusahaan. Pembimbingan itu seyogyanya memadukan pengembangan diri dan kebutuhan organisasi. Pendekatan strategik ini akan membantu pemimpin beradaptasi terhadap tanggung jawab baru, mengurangi perilaku destruktif, meningkatkan retensi, mendorong kerjasama tim, menyelaraskan tujuan individu dengan tujuan bersama, memfasilitasi suksesi, dan mendukung perubahan organisasi.

BT Lim berpendapat, program pembimbingan bisnis merupakan proses terencana untuk menciptakan lingkungan pendukung bagi perusahaan untuk bertumbuh dan mengambil tindakan dengan menumbuhkembangkan eksekutif potensial. Pembimbingan adalah proses orang per orang, sebuah hubungan antar individu, antara perusahaan dengan pembimbing, dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan kinerja eksekutif yang bersangkutan sehingga pada akhimya meningkatkan kinerja bisnis secara keseluruhan.

“Perusahaan membutuhkan jasa pembimbingan karena tujuan setiap orang berbeda-beda dan harus disatukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Pembimbingan berusaha mengisi gap kompetensi personal dengan kompetensi profesional yang dibutuhkan perusahaan, Tidak ada orang yang sempurna, termasuk CEO sekalipun,” ungkapnya.

Keberhasilan seorang eksekutif sangat ditentukan oleh lingkungan tempatnya berada. Banyak sekali eksekutif gagal karena tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal, tidak mampu mengelola orang, dan tidak piawai dalam pengambilan keputusan. Tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal, misalnya omongan seorang CEO terlalu tinggi untuk level di bawahnya, sehingga seorang pembimbing bisa menjembataninya. Atau strategi bisnis yang disusunnya tidak bisa dilaksanakan karena hanya bersifat makro atau terlalu “tinggi”.

Ada juga CEO yang kurang piawai mengelola orang sehingga kebijakan bisnis yang telah dibuat tidak jalan. Sedangkan, masalah ketidakpiawaian mengambil keputusan bisa karena dalam kondisi sulit mereka tidak bersikap rasional. “Sebagai konsultan, seorang coach selalu harus bertindak rasional,” tambahnya,

Umumnya perusahaan konsultan pembimbingan bisnis lebih menyukai program pembimbingan secara terpadu, di mana pihak yang harus dibimbing mulai dari manajer ke atas. Hal ini juga sangat ditentukan oleh besarnya ukuran perusahaan, usia perusahaan, dan kompetensi kepemimpinan dalam perusahaan. Sebagai contoh, pembmbingan tidak dilakukan terhadap perusahaan yang baru berdiri atau belum mencapai tahap perkembangan awal. Alasannya, tutur Mike R. Jay, seorang pembimbing bisnis terkemuka yang baru-baru ini memberikan training di Jakarta, 80% dari perusahaan baru umumnya gagal untuk bertahan hidup.

“Perusahaan yang bisa diberikan jasa pembimbingan bisnis adalah mereka yang telah memiliki model bisnis yang jelas namun membutuhkan penyempurnaan kepemimpinan untuk meningkatkan kinerja bisnisnya lebih lanjut,” katanya. Dalam sistem pembimbingan bisnis terpadu, inisiatif pembimbingan biasanya diperlukan setelah perusahaan menerapkan rencana pengembangan individual (Individual Development Plan) untuk mendapatkan peningkatan kinerja individu secara berkelanjutan. Seringkali rencana pengembangan individual itu tidak sepenuhnya berhasil mencapai sasaran, yaitu untuk mendapatkan kader-kader eksekutif berkualitas. Untuk mengatasinya, perusahaan memerlukan program pembimbingan.

Program pembimbingan strategik mencakup seluruh kader eksekutif. Melalui program ini, perusahaan secara terdisiplin memperdalam hubungan dengan karyawan terpenting sekaligus meningkatkan efektivitasnya. “Program pembimbingan paling penting menyangkut perubahan kultur untuk keberhasilan seluruh organisasi,” tukas Stratford Sherman dan Alyssa Freas.

Berbeda dengan mentor, advisor, atau trainer, menurut Mike R. Jay, program pembimbingan membutuhkan adanya dialog dengan sponsor (perusahaan atau pimpinan perusahaan) maupun dengan indvidu yang dibimbing. Keterbukaan antara pihak-pihak yang terkait menjadi prasyarat mutlak untuk keberhasilan sebuah program pembimbingan. Hanya dengan keterbukaan, si pembimbing bisa memberikan bimbingan untuk meningkatkan kapabilitasnya sehingga pada akhimya kinerjanya meningkat.

Hal senada diungkapkan oleh BT Lim. “Bahkan, urusan pribadi pun bisa saja dibicarakan bila itu mempengaruhi kinerja si eksekutif.” Dalam wawancara beberapa waktu lalu, Gede Prama dengan lugas mendeskripsikan peran seorang pembimbing eksekutif: “Kadang-kadang jadi psikolog, jadi konsultan bisnis, kadang-kadang jadi kiai, jadi teman, dan lain kali jadi ayah,” lanjutnya sambil tersenyum.

Bersifat terbuka tentu membutuhkan kepercayaan penuh dari eksekutif yang dibimbing terhadap seorang executive coach. Kepercayaan dimaksud hanya mungkin diberikan kepada orang yang telah cukup dikenal secara pribadi (bila yang dibimbing adalah eksekutif puncak) dan memiliki reputasi tinggi sebagai seorang CEO atau pembimbing eksekutif. Menjadi pembimbing eksekutif yang sukses, sebaiknya ia telah mengenyam posisi CEO sehingga memahami sepenuhnya berbagai aspek manajemen perusahaan. Ia pun bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman dari apa yang pemah diterapkannya saat memimpin perusahaan. “Yang dijual oleh pembimbing eksekutif kan, track record-nya sebagai eksekutif,” ujar BT Lim mengingatkan.

Tugas sebagai pembimbing bisnis jelas tak ringan. Perusahaan menggunakan pembimbing eksekutif karena sejumlah alasan: menyusun dan mewujudkan tujuan yang lebih baik dan lebih cepat, menciptakan perubahan yang signifikan, menjadikan si eksekutif lebih profesional, membuat keputusan lebih baik, mampu berkolaborasi dengan orang lain, dan lebih fokus pada pemecahan masalah bisnis. Dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa mewujudkan harapan perusahaan tersebut.

Terhadap si eksekutif yang dibimbing, BT Lim melihat beberapa dampak positif dari pembimbingan, seperti lebih piawai dalam menyusun dan mewujudkan tujuan, menjadi lebih tangguh, bisa meraih kepuasan dalam bekerja dan hidup, lebih mampu berkontribusi bagi tim dan organisasi, mampu berkomunikasi lebih efektif, dan sebagainya. Banyak manfaat personal dan profesional yang bisa didapatkan eksekutif dari program pembimbingan. Termasuk di antaranya mengurangi beban stres sehingga mereka bisa fokus pada pekerjaan yang lebih strategik sifatnya

Mike R. Jay mengatakan, proses pembimbingan biasanya terdiri dari 3 tahap: tahap penyusunan struktur, tahap permulaan, dan tahap pelaksanaan proses pembimbingan. Tahap pertama mencakup kesepakatan kontrak pembimbingan, menyusun standar kinerja, menjelaskan hasil yang ingin dicapai, mendefinisikan sukses menurut pemahaman pimpinan, dan menyusun strategi pengakhiran (exit strategy). Tahap permulaan meliputi pemanfaatan alat asesmen, mengidentifikasi zona kenyamanan, membangun kepercayaan, dan sebagainya. Tahap terakhir fokus pada implementasi sistem pembimbingan dan melakukan evaluasi terhadap pencapaian kinerja.

Kontrak kerjasama lazimnya memuat kesepakatan tentang lingkup pekerjaan, jangka waktu pembimbingan, dan indikator pengukuran keberhasilan proses pembimbingan. Dalam kontrak juga termuat tentang kesepakatan untuk menjaga kerahasiaan informasi (non-disclosure agreement). Artinya, seorang coach harus menjaga betul agar semua informasi yang terkuak tidak akan diberitahukan kepada siapa pun – termasuk setelah proses pembimbingan berlangsung. “Kesepakatan ini sangat penting untuk membuat klien menjadi lebih terbuka,” tegas BT Lim.

Jangka waktu kontrak pembimbingan biasanya minimal 6 bulan dan paling lama 1 tahun. Indikator keberhasilan pembimbingan yang diukur mencakup kinerja kerja kualitatif dan kuantitatif – yang terakhir termasuk kinerja keuangan perusahaan (pendapatan dan profitabilitas). Proses evaluasi secara rutin dilakukan setiap bulan untuk menilai kemajuan pembimbingan. Seorang coach dibayar per bulan, namun tidak tertutup kemungkinan dibayar per paket seperti dalam kasus Gede Prama.

Karena membimbing CEO perusahaan asing, BT Lim dibayar dalam dolar Amerika. Pembayaran secara resmi dilakukan oleh perusahaan karena program pembimbingan yang dia lakukan resmi menjadi agenda perusahaan. Di luar bayaran bulanan, BT Lim juga meminta insentif tambahan berdasarkan pencapaian kinerja bisnis perusahaan. “Insentif itu memang sepenuhnya berasal dari inisiatif pribadi. Saya tidak tahu apakah itu lazim atau tidak,” ungkapnya berterus terang.

Mahalkah biaya yang harus dikeluarkan perusahaan? Tidak ada yang mau mengungkap angka nominalnya. Toh BT Lim tidak mau terlalu mematok harga untuk perusahaan lokal. “Saya masih punya idealisme untuk memajukan perusahaan lokal,” katanya serius. Ditanya kapasitasnya untuk membimbing eksekutif, BT Lim menjawab 5-6 eksekutif per bulan. “Jumlah sebanyak itu masih bisa saya layani dengan profesional,” tambahnya.

Cara kerja seorang coach merupakan kombinasi pertemuan di ,kantor dengan pertemuan di kafe/restoran dan melalui telepon. Pertemuan di kantor klien umumnya berlangsung sekitar 2 jam setiap kali pertemuan berdasarkan permintaan klien. “Mirip eksekutif panggilan,” ujar BT Lim terbahak. Pertemuan di kantor sekitar 2 kali seminggu. Pertemuan di kafe / restoran relatif lebih sering, terutama pada jam makan malam. Pertemuan dilakukan tidak hanya pada hari kerja. “Bisa saja hari Sabtu,” kata BT Lim lagi. Namun, yang paling sering adalah pembicaraan via telepon. Bisa mencapai 4 jam per minggu.

Sekilas beban kerja seorang executive coach tampak ringan. Tetapi hal ini ditampik oleh Mike R. Jay dan BT Lim. “Sebagai coach, kami harus benar-benar mempersiapkan diri karena advis kami dipergunakan untuk meningkatkan kinerja eksekutif maupun perusahaan,’ ujar mereka di tempat terpisah. Dinamika dan kompleksitas dunia bisnis mengharuskan pula mereka untuk selalu update dengan perkembangan dalam dunia bisnis.

Pada akhimya, tutur BT Lim, tujuan dari proses pembimbingan adalah menanamkan keyakinan kepada para eksekutif untuk menentukan nasib mereka sendiri. Kalau tidak, orang lain yang akan menentukan nasib Anda. Ini seperti yang diungkapkan Jack Welch, legenda CEO GE: “Control your own destiny or someone else will.”

Sumber: Majalah Human Capital No 19 | Oktober 2005

article source: http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/bisnis/1id304.html

Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Sponsor Banner

Komentar

3 Komentar untuk “Business Coach-Solusi Bagi Dunia Bisnis”

  1. Business Coach - Agus Gunario : Business Coaching - Smart Action Breakthrough Business Community pada 21 May 2009 8:59 am

    [...] itulah ia lebih memposisikan sebagai pebisnis sekaligus pelatih. “Untuk menjadi Action Business Coach kita harus membeli lisensi dan membayar fee kepada ActionCoach business coaching.” Imbuhnya. Yang [...]

  2. Business Coach - 5 langkah menuju Entrepreuner Sejati : Business Coaching - Smart Action Breakthrough Business Community pada 21 May 2009 9:33 am

    [...] “Temukan rahasi membangun bisnis kelas dunia”  bersama Business Coach [...]

  3. Business Coach - Ini benar-benar BREAKTHROUGH : Business Coaching - Smart Action Breakthrough Business Community pada 11 June 2009 11:09 pm

    [...] : Business Coach Training [...]

Silahkan berikan tanggapan Anda...