Ruko Serpong Town Square Blok A1 No 23 - Jl.MH Thamrin-Tangerang-INDONESIA. Telp/Fax.(021)55755202 Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community

Business Coach – Ini benar-benar BREAKTHROUGH

15 January 2009
Penulis: Smart Action   · Kategori Artikel: Artikel Bisnis

Business Coach – Ini benar-benar BREAKTHROUGH

Business Coach – 5 langkah menuju Entrepreuner Sejati

Banyak sekali orang mengaku dirinya wirawasta ( Entrepreuner ) karena merasa punya usaha ( bisnis ). Namun sebenarnya seperti bidang-bidang lainnya Entrepreuner ada levelnya. Sebagai contoh banyak orang bisa bermain bulutangkis dan pemain bulutangkis ada levelnya apakah hanya asal bisa main atau menjadi pemain level RT atau pemain level propinsi atau pemain level nasional atau pemain level internasional. Demikian juga dengan Entrepreuner. Mulai dari penjual warung nasi sampai pemilik saham dari perusahaan raksasa semuanya adalah Entrepreuner, tentu saja levelnya berbeda.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai jenjang Entrepreuner, marilah kita sepakati dahulu definisi dari usaha / bisnis itu sendiri. Apa definisi dari Bisnis? Definisi Bisnis menurut ActionCoach adalah “A Commercial Profitable Enterprise that works without me” yaitu Sebuah badan usaha komersial yang menguntungkan yang bisa berjalan/bekerja tanpa ada saya. Artinya apabila ada sebuah badan usaha komersial yang tidak menguntungkan dan tidak bisa berjalan kalau tidak ada saya sebenarnya bukan merupakan sebuah bisnis melainkan sebuah pekerjaaan.

Dan pada umumnya 80% dari bisnis gagal dalam kurun waktu 5 tahun sejak dimulainya. Artinya dari 100 bisnis dimulai bersamaan, 80 bisnis gagal dan hanya 20 bisnis yang bisa bertahan sampai 5 tahun. Dan dari 20 bisnis yang tersisa, 80% akan gagal dalam 5 tahun berikutnya. Sehingga hanya tinggal 4 bsnis yang bisa bertahan sampai 10 tahun.
Kegagalan tersebut pada umumnya bukan karena pemiliknya tidak bekerja keras tapi terutama tidak tau apa yang harus dilakukan. Bisnis sebenarnya adalah sebuah permainan, karena itu belajarlah dari pemain bisnis terbaik dan dari pelatih bisnis ( business coach ) yang terbaik.

Jenjang Entrepreuner adalah suatu kerangka kerja untuk mengerti diri kita, menyadari dimana level kita saat ini dan ke level mana yang kita inginkan. Jenjang Entrepreuner ini mulai dari level 0 – Employee, Level 1 – Self Employee, Level 2 – The Manager, Level 3 – The Owner/Leader, Level 4 – The Investor , Level 5 – The Entrepreuner.

Jenjang Entrepreuner dimulai dari Level 0 yaitu Employee/Karyawan. Masih belum bisa dikategorikan Entrepreuner, tetapi bisa sebagai landasan menuju Entrepreuner. Bagaimana karyawan mendapatkan uangnya? Yaitu dari menukarkan kemampuan dan waktunya dengan uang. Mindset atau sikap mental dari seorang karyawan adalah merasa aman dengan adanya gaji setiap bulan. Sehingga keputusannya lebih berdasarkan rasa takut dibandingkan keyakinan dan visinya. Dari sudut pandang Entrepreuner sebagai karyawan sebenarnya jauh dari rasa aman karena ketergantungannya terhadap satu orang pelanggan yaitu perusahaan dimana ia bekerja sangatlah besar. Lebih aman manakah mempunyai satu orang pelanggan besar atau seratus pelanggan kecil-kecil. Kalau ditinggalkan 10 pelanggan kecil, masih ada 90 pelanggan kecil lainnya dan lebih mudah mendapatkan gantinya. Karyawan umumnya menunjukan kesuksesan melalui pembelian barang-barang yang seringnya dikemudian hari tidak terlalu penting dan merasa bahwa pendapatannya sama dengan kekayaannya. Padahal bagaimana seorang karyawan menggunakan pendapatannya sangat menentukan kekayaannya. Umumnya karyawan berasumsi jika intelegensianya ditingkatkan maka akan menambah besar kemungkinan untuk menjadi lebih kaya. Padahal untuk menjadi Entrepreuner yang lebih dipentingkan adalah keberanian, mengambil tindakan dan kepemimpinan. Jadi salahkan menjadi karyawan? Tidak, boleh saja menjadi karyawan dengan 2 alasan. Yang pertama adalah mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman. Yang kedua adalah mendapatkan uang untuk modal nantinya.

Jenjang Entrepreuner yang pertama Level -1 adalah Self Employee/Bekerja Sendiri. Yang sebelumnya menjadi karyawan sekarang sudah mulai bekerja sendiri. Pada umumnya seorang karyawan memulai bisnisnya dengan keyakinan bahwa sekarang sudah tidak ada orang yang bisa memecat saya. Alasan lainnya adalah dia merasa bisa mengerjakan lebih baik dari perusahaannya, mengapa perusahaan yang mendapatkan semua uangnya dan dia yang kebagian mengerjakan semuanya. Apapun alasannya dibutuhkan keberanian untuk melangkah. Ternyata keberanian ini yang jarang kita temui pada karyawan apalagi kalau jabatannya semakin tinggi karena mereka sudah merasa nyaman. Nah sekarang bagaiman Self Employee mendapatkan uangnya? Sebetulnya sama saja dengan karyawan yaitu menukarkan kemampuan dan waktunya dengan uang. Bedanya sekarang mereka majikan bukan lagi karyawan. Tetapi semuanya masih dikerjakan sendiri. Mindset dari Self Employee adalah berkeinginan besar untuk mengontrol hidup dan nasib mereka sendiri. Seperti lagunya Frank Sinatra “I did it my way”. Apabila kita berada pada jenjang ini sebaiknya kita belajar hal-hal yang berguna untuk naik ke jenjang berikutnya. Antara lain kita belajar mengenai struktur perusahaan, akunting, sales & marketing. Dan sebagai pemilik bisnis baru belajar juga yang namanya kerja keras, bagiamana mengurangi biaya dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain. Belajar artinya bertanggun jawab dan bisa diandalkan. Belajar teknologi, bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak lagi, bagaimana menjadi seorang majikan dan melakukan kontrol.

Jenjang berikutnya adalah Level 2 – The Manager. Dengan perkembangan usaha dari Self Employed, maka sudah tidak mungkin lagi untuk mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Sehingga dibutuhkan personil-personil untuk membantu menjalankan bisnisnya. Namun sebelum kita melanjutkan mari kita telusuri apa yang membuat Self Employed naik ke jenjang yang kita sebut The Manger.

Self Employed setengah dari hidupnya melakukan Marketing, Sales dan Administrasi dan setengahnya lagi adalah melaksanakan pekerjaan. Dengan kata lain mengejar pekerjaan, melaksanakan pekerjaan, mengejar pekerjaan, melaksanakan pekerjaan demikian seterusnya. Hal ini berlangsung hari demi hari sehingga sering membuat frustasi . Dan tiba saatnya bagi Self Employed mengambil keputusan apakah akan kembali lagi menjadi karyawan atau terus menekuni bisnisnya dan naik ke jenjang berikutnya yaitu The Manager.

Yang bisa naik ke jenjang ini hanya Self Employed yang mempunyai visi besar termasuk membuat goal-goal untuk mencapai visi tersebut. Merubah identitas bisnisnya dari bisnis kecil menjadi bisnis besar. Begitu telah ditetapkan visi, goal dan identitas yang baru maka saatnya mereka mulai bekerja “ON the business”. Pertama dibuat skema organisasi yang menggambarkan fungsi yang seharusnya ada dalam perusahaan bukan berdasarkan orang yang ada. Baru kemudian merekrut personil untuk mengisi posisi yang telah ditentukan, dengan tujuan mengurangi beban pekerjaan yang harusnya dilakukannya, Maka jadilah The Manager yaitu orang yang mengendalikan sebuah bisnis.

The Manager mendapatkan uang dengan cara mengambil gaji dari perusahaannya. Seringkali sulit membedakan antara uang perusahaan dengan uang pribadi. Fokusnya lebih kepada CashFlow. Mindset dari The Manager adalah mengendalikan bisnis, sehingga kadang bisa terjebak dengan merasa menjadi orang penting dan bertindak sebagai bos. Bos lebih menyukai merekrut orang yang bisa dikontrol disbanding orang yang bisa dipimpin. Hal ini akan menyulitkan bila naik ke jenjang berikutnya karena bisnis tidak akan bisa bertumbuh tanpa adanya orang-orang yang baik.

Untuk persiapan naik ke jenjang berikutnya The Manager sebaiknya belajar mengenai team building, system, pendelegasian, cashflow, alokasi sumber daya, membangun hubungan dengan banker dan supplier dan yang paling penting bagaimana membuat keputusan dengan cepat. Karena untuk mempercepat bisnis bertumbuh besar, sangat dibutuhkan keputusan yang benar dan cepat dalam nenyelesaiakan permasalahan yang dihadapi.

Jenjang yang ketiga adalah Level 3 – The Owner / Leader

Banyak Entrepreuner berhenti pada level -2 yaitu The Manager bukan karena merasa nyaman berada di level tersebut melaiinkan tidak belajar apa yang seharusnya mereka pelajari. Mereka tidak mempelajari team building dan system yang merupakan landasan untuk naik ke jenjang berikutnya yaitu The Owner / Leader.

Owner / Leader benar-benar menyadari bahwa menukarkan waktu dengan uang bukan formula untuk menjadi kaya. Mindsetnya adalah bagaimana menjadi lebih kaya dengan bekerja lebih cerdik. Mereka mengangkat General Manager atau Direktu. Mereka punya team dan system yang membuat bisnis dapat berjalan tanpa kehadirannya.

Tidak seperti level-level sebelumnya, Owner / Leader mendapat uang bukan dari gaji atau bekerja mencari uang melainkan mereka menerima profit. Berarti mereka bergerak dari yang sebelumnya punya job/pekerjaan menjadi semi retired / semi pension dengan kata lain bergerak dari “IN the Business” menjadi “ON the business”. Besarnya pendapatan bukan lagi tergantung dari besarnya usaha yang dilakukan atau waktu yang dihabiskan, namun lebih tergantung pada tingkat keuntungan yang dapat dihasilkan oleh bisnisnya. Oleh karena itu mereka disebut dengan Owner yaitu orang yang memiliki sesuatu yang dalam hal ini adalah bisnis . Atau Leader adalah orang yang memimpin yang dalam hal ini adalah memimpin team yang menjalankan bisnisnya.

Para Owner / Leader harus dapat menerima bahwa uang perusahaan adalah tidak sama lagi dengan uang pribadi. Fokusnya bukan lagi pada cashflow tapi lebih ke arah profit. Dengan adanya team yang menjalankan bisnisnya, Owner / Leader mempunyai waktu lebih banyak untuk menikmati hidupnya,memperhatikan kesehatan dan keluarganya, punya waktu untuk bersosialisasi dalam organisasi atau komunitas bisnis. Bahkan melalui networking yang dikenalnya dapat memberikan kesempatan lebih besar untuk perkembangan bisnisnya. Tidak tertutup kemungkinan untuk investasi di bisnis yang lain.

Hal yang perlu dipelajari dari level Owner / Leader adalah bagaimana bisa lebih percaya kepada teamnya maupun orang lain. Namun yang paling penting diantaranya adlaah belajar bagaimana melakukan investasi dan mengumpulkan modal untuk investasi tersebut. Karena hal ini sangat vital untuk membawanya naik ke jenjang Entrepreuner berikutnya yaitu The Investor.

Jenjang yang keempat adalah Level 4 – The Investor.

Level ini adalah mengenai investasi. Entrepreuner pada level ini belajar sebanyak banyaknya mengenai investasi. Tujuannya disini adalah Make Money With Money atau bagaimana menghasilkan uang dengan uang untuk menjadi lebih kaya. Permainannya adalah mencari perusahaan yang sedang berjalan dibawah potensial yang seharusnya, membeli dengan harga rendah, membangunnya secara cepat dengan menggunakan pengetahuan , ketrampilan dan system yang sudah dipelajari atau dikembangkan, dan menjualnya kembali dengan harga tinggi. Tentunya diperlukan juga jockeys yang baik untuk membantu membangun perusahaan yang dibeli tadi.

Mindset pada level investor adalah bagaimana membuat sesuatunya menjadi sederhana. “Keep things simple”. Goalnya yang utama dan sederhana adalah bagaimana menjadi lebih kaya secara cepat melalui modal yang dimilikinya. Baik dengan cara membeli,membangun dan menjual kembali bisnis. Atau dengan cara membeli, merenovasi dan menjual property. Maupun dengan cara membeli saham dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga tinggi. Fokusnya adalah pada “Return on Investment”, penghasilan yang didapat dari modal yang dikeluarkan. Oleh karenanya mereka disebut Investor yaitu irang yang menanam modalnya.

Tugas investor adalah berpikir mengenai strategi, perencanaan dan mengarahkan teamnya. Sedangkan untuk pelaksanaan pekerjaan diserahkan kepada teamnya. Sekarang barulah menyadari bahwa betapa pentingnya mempelajari Team Building pada waktu di Level 2 – The Manager dan betapa pentingnya mempunya Direktur yang dapat diandalkan.

Banyak hal yang dipelajari pada level Investor antara lain belajar berpikir besar, belajar dan menguasai bisnis, struktur perusahaan, perpajakan, property dan saham. Belajar membangun reputasi, team dan kekayaan. Inilah yang nantinya sangat berguna pada saat memasuki jenjang yang lebih tinggi yaitu Entrepreuner.

Jenjang yang terakhir yaitu Level 5 – The Entrepreuner

Sampailah pada jenjang yang disebut Entrepreuner Sejati, yang mendapatkan uang dari meningkatnya modalnya (Raising Capital) dengan menciptakan nilai tambah. Mereka menggunakan uang orang lain untuk membangun asset kertas seperti saham, franchise,license dan royalti.

Perhatikan, apa yang dijual Bill Gates sebagai orang kaya nomor satu di dunia? Untuk menjadi kaya, apakah dia menjual computer, informasi, solusi atau system? Semuanya bukan. Ternyata yang dijual Bill Gates adalah sahamnya di Microsoft. Inilah yang menjadikan dia kaya raya. Entrepreuner sejati akan membangun bisnisnya agar menjadi perusahaan public sehingga bisa menjual sahamnya. Inilah yang dalam semalam akan menghasilkan kekayaan yang luar biasa.

Kalau pada level Investor titik beratnya pada membeli, membangun dan menjual kembali. Maka pada level Entrepreuner titik beratnya adalah menjual dan pada level yang berbeda. Menjual franchise atau menjual saham dalam perusahaan. Menjual investasi yang diciptakan. Bahkan bisa menjual ide atau mimpi. Sudah pasti untuk bisa mencapai level ini dibutuhkan pengetahuan, ketrampilan, pengalaman yang dipelajari dari level-level sebelumnya.

Mindset dari Entrepreuner sejati adalah bagaimana menggunakan uang orang lain untuk menghasilkan uang. Mimpi dari Entrepreuner adalah tidak memiliki apa-apa tapi mengendalikan semuanya, “Own Nothing but Control Everything”. Sebagai contoh pemilik perusahaan yang menjual franchise, tentunya tidak menjual hanya kepada satu orang saja, bisa pada puluhan bahkan ratusan orang. Jadi sekarang banyak sekali pemilik dari bisnis tersebut. Sehingga seolah-olah pemilik perusahaan tidak memiliki apa-apa tapi sebenarnya dia yang mengontrol semuanya. Dan bagusnya lagi sekarang yang menanggung resiko bisnis tersebut adalah pembeli franchise dan pemilik masih dapat menikmati royaltinya.

Referensi : buku Billionare in Training by Bradley J. Sugars dan Business Coach Training Book

Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Sponsor Banner

Komentar

Silahkan berikan tanggapan Anda...