Ruko Serpong Town Square Blok A1 No 23 - Jl.MH Thamrin-Tangerang-INDONESIA. Telp/Fax.(021)55755202 Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community

Business Coach-Cara Mengurangi Kerugian Bisnis

1 January 2009
Penulis: Smart Action   · Kategori Artikel: Entrepreneurship

Business Coach-Cara Mengurangi Kerugian Bisnis

Bagaimana Cara Mengurangi Kerugian di Bisnis?

Pertanyaan ini sering tidak terlalu diperhatikan pemilik usaha karena banyak pemilik usaha yang mengalami kesulitan lebih banyak berpikir bagaimana caranya mendapatkan pelanggan lebih banyak, omzet lebih besar, ataupun profit yang lebih besar.

Sayangnya sebelum kita bisa mencapai itu semua, kunci pertama yang harus kita capai bila bisnis kita mengalami kerugian adalah mengurangi kerugian itu. Langkah apa saja yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai hal ini? Brad Sugars, billionaire, business coach dan penulis buku dari Action Coach telah memberikan tip yang bernama Mastery Level yang sebaiknya dicapai oleh pemilik bisnis. Strategi ini sudah diimplentasi dengan sukses di 23 negara termasuk lebih dari 130 perusahaan menengah dan kecil di Indonesia.

Apa Mastery Level itu?
Goal daripada Mastery Level adalah untuk pemilik bisnis untuk dapat mengkontrol team, time dan moneynya dari kekacauan. Menurut Brad Sugars, bila pemilik bisnis mengalami beberapa gejala seperti omset dan profit yang naik turun, waktu yang tidak pernah cukup untuk dinikmati karena kesibukan bisnis dan juga penyajian servis dan produk yang tidak kosisten, maka mastery level lah yang harus dicapai untuk mengurangi kerugian sebelum mencapai profit yang optimal.

Menurut Brad, ada 3 mastery yang sebaiknya dicapai oleh pemilik bisnis yaitu: time mastery, money mastery dan delivery mastery.Money mastery adalah suatu proses mencakup dua area yang patut dikuasai untuk mengurangi dan menghilangkan kerugian: break even mastery dan profit margin mastery.

Break even mastery adalah suatu perhitungan yang patut dilakukan agar si pemilik bisnis mengetahui berapa minimum transaksi yang harus dia capai agar agar biaya operasionalnya per hari, perbulan dan pertahun tercukupi. Pada dasarnya, ada 2 komponen yang harus diketahui oleh pemilik bisnis untuk mencapai break even mastery, yaitu: average Rp sale dan fixed cost.

Hitunglah fixed cost selama setahun, lalu dibagi 12 dan anda akan mendapatkan biaya operasional per bulan. Bila ini anda bagi 30 hari atau jumlah hari bisnis anda berjalan, anda akan mendapatkan biaya operasional perharinya.

Average $ sale atau average Rp sale adalah nilai penjualan rata-rata dari pelanggan anda. Cara mendapatkannya adalah dengan membagi jumlah total omzet anda per tahun atau perbulan yang dibagi dengan jumlah pelanggan/customers anda pada periode pertahun atau perbulan. Contohnya, bila omzet anda Rp 100 juta/bulan dan ada 100 pelanggan di bulan tersebut, maka average Rp sale anda adalah Rp 100 juta dibagi 100 pelanggan, yaitu Rp 1 juta. Jadi untuk mendapatkan jumlah transaksi perbulan yang dibutuhkan untuk menutup biaya operasional adalah adalah dengan membagi total fixed cost dalam periode tertentu (perbulan atau perhari) dengan average $ sale. Contohnya: bila fixed cost anda perbulan adalah Rp 50 juta dan average Rp sale anda Rp 2 juta, maka dalam satu bulan anda harus mendapatkan minimum 25 transaksi perbulan (informasi lebih tentang profit margin mastery bisa didapatkan di buku Business Coach dari Brad Sugars).

Time mastery dan delivery mastery adalah 2 area yang sebaiknya dikuasai setelah money mastery. Time mastery adalah level dimana pemilik bisnis bisa mengatur waktunya dengan planning yang tepat. Banyak pemilik bisnis merasakan mereka seperti terjajah oleh aktivitas bisnisnya, sehingga mereka tidak pernah memiliki waktu untuk menikmati hasil bisnisnya dan melainkan waktunya habis hanya untuk mengurusi bisnis. Bagaimana cara agar pemilik bisnis dapat memiliki waktu untuk menikmati hasil bisnisnya? Menurut Brad Sugars, pemilik bisnis harus dapat memilah-milah waktu kapan dia harus melakukan yang namanya “working on the business” dan kapan mereka melakukan “working in the business.”

Working in the business adalah aktifitas pekerjaan bisnis yang berhubungan dengan rutinitas. Contohnya, seorang hairdresser salon dalam pekerjaannya memotong rambut dan menatanya adalah tugas working in the business. Jadi bila dia mengambil keputusan untuk membuat bisnis salon sendiri dan kemudian dia disibukkan hanya dengan kegiatan yang sama dengan waktu dia masih bekerja di salon orang, yaitu memotong rambut, berarti dia masih melakukan working in the business. Masalahnya adalah pada saat dia sudah memiliki salon sendiri, banyak aktivitas lainnya yang dia harus pelajari dan lakukan seperti sales, marketing, customer service, finance dan lain-lain yang dulu waktu dia masih bekerja, dia tidak lakukan. Jadi bila dia hanya melakukan working in the business, sebagai pemilik bisnis, tidak ada orang lain yang melakukan aktivitas working on the business nya seperti sales, marketing, customer service, dll, kamungkinan besar salonnya akan tutup karena dia akan merasa lelah dan kembali lagi bekerja sebagai karyawan.

Untuk mendapatkan keseimbangan antara working on dan working in the business, time mastery planning sangat dibutuhkan. Caranya, tulislah aktivitas anda berdasarkan kategori-kategori: aktivitas yang not important (tidak penting) dan not urgent (tidak mendesak), not important (tidak penting) tapi urgent (mendesak), important (penting) dan urgent (mendesak) dan yang terakhir adalah important (penting)dan not urgent (tidak mendesak). Setelah anda megidentifikasi semua aktivitas ini, pastikan anda buang aktivitas yang mencakup not important, not urgent, dan not important urgent.

Setelah itu pastikan 80% waktu anda di dedikasikan ke aktivitas yang important not urgent yang merupakan aktivitas working on the business dan 20% waktu anda di aktivitas important dan urgent. Dengan melakukan hal ini, aktivitas anda akan mengikuti planning aktivitas yang memang anda sudah siapkan, sehingga anda akan mempunyai cukup waktu untuk melakukan aktivitas seperti sales, marketing, customer service, operation, finance dan lain-lain dimana aktivitas working in the businessnya bisa didelegasikan ke orang lain yang memang sudah bisa melakukan standarisasi anda (untuk lebih detailnya, bisa dibaca di buku Business Coach dari Brad Sugars).

Mastery yang terakhir adalah delivery mastery. Apakah delivery mastery itu? Delivery mastery adalah suatu penguasaan proses pemilik bisnis menservis pelanggannya. Contohnya, apa kah anda pernah datang untuk makan di restoran karena iklan yang anda lihat di TV atau majalah? Bila ya, pernahkah anda kemudian merasa kecewa karena rasa makanannya tidak enak atau servisnya jelek? Bila jawabannya ya, berarti restoran tersebut belum mencapai delivery mastery. Apalah gunanya beriklan untuk mendapatkan banyak pelanggan bila delivery mastery belum tercapai? Yang ada berita buruk tentang tidak enaknya makanan di resto tersebut atau berita mengenai servis yang buruk yang akan menyebar lebih cepat karena iklan anda. Bagaimana menyikapi hal ini? Tujuan delivery mastery adalah lebih untuk mencapai konsistensi standard sevis dan produk tertentu daripada memikirkan bagaimana memberikan servis yang luar biasa tetapi tidak konsisten. Berdasarkan survey, kenyataannya pelanggan lebih memilih mendapatkan servis yang bagus secara konsisten dibanding servis atau produk yang luar biasa tetapi tidak konsisten.

Kembali lagi bila kita bertanya tentang bagaimana cara mengurangi kerugian di bisnis? Menurut Brad Sugars , kuncinya adalah Mastery level. Capailah Mastery di sisi money (uang), time (waktu) dan delivery (penyampaian).

article source: http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=10885

Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Sponsor Banner

Komentar

2 Komentar untuk “Business Coach-Cara Mengurangi Kerugian Bisnis”

  1. Business Coach - Ini benar-benar BREAKTHROUGH : Business Coaching - Smart Action Breakthrough Business Community pada 21 May 2009 9:27 am

    [...] : Business Coach Training [...]

  2. Business Coach - Agus Gunario : Business Coaching - Smart Action Breakthrough Business Community pada 11 June 2009 11:02 pm

    [...] itulah ia lebih memposisikan sebagai pebisnis sekaligus pelatih ( business coach ). “Untuk menjadi Action Business Coach kita harus membeli lisensi dan membayar fee kepada [...]

Silahkan berikan tanggapan Anda...