Ruko Serpong Town Square Blok A1 No 23 - Jl.MH Thamrin-Tangerang-INDONESIA. Telp/Fax.(021)55755202 Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Subscribe to Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community

Berbagi Pengalaman Sekaligus Memanfaatkan Pasar

3 January 2009
Penulis: Smart Action   · Kategori Artikel: Entrepreneurship

Berbagi Pengalaman Sekaligus Memanfaatkan Pasar

ADA satu kesamaan jawaban dari para penulis lokal ketika ditanya apa yang menjadi motivasi mereka menulis buku-buku jenis panduan atau how to atau juga sering disebut buku-buku self help, yakni penulis-penulis itu menulis buku karena ingin berbagi pengalaman atau pengetahuan kepada khalayak pembaca. Namun demikian, mereka tidak menampik bahwa peluang pasar yang cukup menjanjikan dalam bisnis ini juga ikut berperan mendorong mereka menekuni pekerjaan sebagai penulis buku panduan.

KONDISI seperti ini dialami oleh penulis-penulis buku lokal yang saat ini justru terbilang sangat produktif seperti Rhenald Kasali, Andrias Harefa, maupun Anand Krishna. “Tujuan awal saya menulis buku bukanlah pertama-tama untuk mendapatkan pasar, tetapi lebih untuk berbagi apa yang menjadi pikiran-pikiran saya kepada mereka yang berminat,” kata Anand Krishna. Oleh karena itu, kendati Anand Krishna sekarang dikenal sebagai salah seorang penulis buku yang sangat produktif, namun pada awalnya ternyata ia tidak mempunyai niat untuk menjadi penulis buku.

Buku pertama karya Anand yang diterbitkan adalah hasil rekaman ceramah-ceramahnya yang dilakukan oleh salah seorang peserta warga asing yang sering mengikuti ceramah-ceramah tentang meditasi. Buku itu diterbitkan dalam bahasa Inggris dan hanya dicetak sebanyak 1.500 eksemplar karena hanya ditujukan kepada mereka yang berminat. Atas usulan salah seorang muridnya, buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul Kehidupan pada tahun 1997. Karena mendapat respon yang bagus dari masyarakat, sejak saat itulah Anand Krishna mulai rajin menerbitkan buku. Namun, ia baru secara khusus menulis setelah buku ke-5. Buku-buku sebelumnya yang diterbitkan merupakan hasil dari transkripsi ceramah-ceramahnya.

Seperti halnya Anand Krishna, Andrias Harefa penulis buku Manusia Pembelajar yang sudah dicetak ulang lebih dari 6 kali ini, salah satu motivasinya untuk menulis buku adalah keinginannya untuk menyentuh orang lain. “Saya ingin apa yang lalu-lalang di pikiran saya itu bisa di-share-kan atau dibagikan ke audience yang dalam kategori tertentu ada gunanya buat mereka,” tutur Harefa. Keinginannya untuk membantu orang lain lewat buku ini didasari oleh keprihatinannya melihat kondisi masyarakat yang kacau-balau akibat krisis ekonomi di awal tahun 1998. “Saya ingin menyentuh pembaca atau audience supaya dia tergerak menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri,” tambah Harefa. Oleh karena itu, buku-buku yang ditulis oleh Harefa berkutat dalam tiga tema, yakni pembelajaran (learnership), kepemimpinan (leadership), dan kewirausahaan (entrepreneurship) yang intinya agar orang menjadi lebih berdaya, percaya diri, dan mempunyai kemampuan alternatif untuk menghadapi situasi yang tidak menentu akibat krisis.

Selain itu, faktor lain yang mendorong Andrias Harefa menulis buku yang berkisar soal learnership, leadership, dan entrepreneurship adalah dari pengalamannya sebagai orang yang bergerak di bidang pelatihan bisnis (business coaching). “Sebagai pengajar di bidang pelatihan bisnis (business coaching) yang banyak berkutat dengan how to lewat pelatihan-pelatihan, saya melihat how to itu sangat gampang dilatihkan apabila why-nya jelas. Jadi, faktor why itu sangat penting. Oleh karena itu, saya mencoba membuat buku yang mengaitkan how to dengan why karena di Indonesia saya lihat ada kekosongan buku-buku jenis ini,” kata Andrias Harefa. Ia mengakui bahwa seluruh isi dari 21 bukunya yang sudah diterbitkan sejak tahun 1998 cenderung tidak berbicara soal kiat, tetapi lebih banyak berisi menggugah kesadaran orang. “Yang diperlukan orang itu sebetulnya adalah menggugah kesadaran, mereka sebenarnya sudah punya ini, punya itu. Jadi, bukan perkara skill,” ujar Harefa. Hal seperti inilah yang ia tuangkan dalam buku-buku karangannya. Contohnya, adalah buku Berwiraswasta dari Nol. Buku itu memperlihatkan kepada orang bahwa sebetulnya orang berusaha mulai dari nol itu bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

BERBEDA dengan Anand dan Harefa, salah seorang penulis buku panduan lain yakni Rhenald Kasali termotivasi menulis buku-buku jenis panduan karena buku jenis ini lebih disukai dan dibutuhkan oleh pasar. “Waktu pertama kali menulis buku saya tidak mengerti, buku apa yang mesti dibikin. Terus saya kasih contoh buku ke beberapa orang, mereka kasih masukan sama saya. Jangan begitu, harus begini. Kita perlu buku kayak begini. Jadi, saya dikasih masukan sama pasar. Nah, saya kemudian membuat buku berdasarkan apa yang dibutuhkan pasar,” papar Rhenald.

Dari masukan itu ia menyimpulkan bahwa buku dibuat sehingga ilmu yang disampaikan tidak menjadi berat. Caranya, dalam buku itu harus selalu diberi contoh. Kenapa? Karena, manusia adalah pencontoh yang baik. Begitu dikasih contoh, mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk menafsirkannya. Dari situ, terbitlah bukunya yang pertama berjudul Manajemen Periklanan yang diterbitkan penerbit Grafiti Pers tahun 1992. Buku itu mendapat respon yang sangat bagus dari masyarakat sehingga menjadi best seller. Hingga saat ini buku itu sudah sembilan kali dicetak. “Nah, buat saya pengakuan pasar itu lebih penting daripada omongan di kalangan orang-orang yang tidak menulis buku,” kata Rhenald menambahkan. Dari pengalaman itu ia semakin berkeyakinan, bahwa apa yang telah ia kerjakan adalah sudah benar, yakni menulis buku dengan memberi banyak contoh. Setelah itu, lahirlah buku-buku jenis panduan lain hasil karyanya yang juga mendapat respon yang bagus dari masyarakat seperti buku Membidik Pasar, Sukses Melakukan Presentasi.

Sambutan yang positif dari masyarakat terhadap buku-buku jenis panduan terutama semenjak krisis ini membuka peluang pasar yang cukup menjanjikan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya termasuk buat para penulis buku itu sendiri. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan manakala penulis-penulis seperti Anand Krishna, Andrias Harefa, maupun penulis buku panduan lain menjadi sangat produktif. Anand Krishna, misalnya, selama tahun 1999 saja ia sanggup menulis buku hingga 15 judul buku. Suatu jumlah yang cukup fantastis bagi seorang penulis di Indonesia.

Andrias Harefa pun juga mengakui bahwa secara materi menjadi penulis buku cukup menjanjikan. Paling tidak dalam setahun ia bisa mendapat pemasukan antara Rp 40 juta hingga Rp 60 juta rupiah dari hasil royalti dan komisi penjualan dari buku-bukunya. Namun, selain keuntungan materi secara langsung para penulis itu sepakat bahwa mereka mendapatkan keuntungan yang jauh lebih berarti setelah mereka menjadi penulis buku. “Di Indonesia menulis buku tidak bisa menjadi pegangan, tapi menulis buku bisa membuat orang menjadi lebih kaya. Dengan menulis buku dia akan dikenal banyak orang. Pemikirannya akan diakui orang sehingga kredibilitasnya naik. Kalau kredibilitas naik harga dia akan naik dengan sendirinya, uang akan datang sendiri. Bagi anak-anak kita, mereka hidupnya menjadi lebih bermakna karena tahu ayahnya atau ibunya dikenal sebagai seorang penulis buku dan kalau kita mati, di perpustakaan ada nama kita. Keuntungan-keuntungan itu bernilai jauh lebih besar dibanding hasil dari buku itu sendiri, yang paling-paling kita mendapat royalti sebesar 10 persen,” papar Rhenald Kasali.(wen/bip/nur/umi).

Diminati karena Bermanfaat

KEHADIRAN buku-buku jenis panduan yang cukup marak terutama semenjak krisis ekonomi yang melanda negeri ini sejak tahun 1998 lalu ternyata mendapat tempat di hati masyarakat. Buku-buku petunjuk praktis ini banyak diminati karena dengan membaca buku-buku tersebut masyarakat mengaku bisa mendapat banyak manfaatnya. Hasil ini terekam dari hasil jajak pendapat Kompas terhadap 931 pemilik telepon yang tersebar di 10 kota besar di Indonesia tanggal 11-12 Juni lalu.

Minat masyarakat yang cukup tinggi terhadap buku-buku jenis panduan yang juga sering disebut buku-buku how to atau self help ini terlihat dari tingginya persentase responden yang pernah membaca buku-buku jenis tersebut. Setidaknya mendekati 60 persen responden yang mengaku pernah membaca buku-buku yang kebanyakan berisi kiat-kiat, petunjuk praktis maupun pemberdayaan diri tersebut. Proporsi seperti itu tergolong tinggi, terutama melihat masih rendahnya budaya baca buku yang ada di masyarakat Indonesia saat ini. Hal ini memperlihatkan bahwa buku-buku jenis panduan memang diminati oleh sebagian besar masyarakat.

Tingginya antusiasme masyarakat terhadap buku-buku panduan tidak terlepas dari besarnya manfaat yang bisa diperoleh dari membaca buku-buku itu. Hampir seluruh responden, yakni sekitar 97 persen responden yang pernah membaca buku-buku panduan mengakui bahwa membaca buku-buku panduan ada manfaatnya. Tingginya persentase pembaca yang memperoleh manfaat dari membaca buku-buku panduan ini bisa dilihat sebagai salah satu keberhasilan dari penerbitan buku-buku jenis panduan ini. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila buku-buku jenis masih sangat diminati oleh masyarakat. Terlebih buat sebagian besar masyarakat Indonesia yang sangat membutuhkan pegangan setelah mengalami krisis kepercayaan akibat krisis multidimensi yang melanda beberapa tahun belakangan ini. (wen)

article source:http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0306/21/pustaka/379952.htm

Business Coaching – Business Coach – Smart Action Breakthrough Business Community Sponsor Banner

Komentar

Silahkan berikan tanggapan Anda...